Rabu, 26 September 2018

Jangan Kerdilkan Rezekimu





Dulu, waktu masih tinggal di Indramayu, waktu kakak Andien masih kelas 2 SD, saya sudah mendengar nama Pondok Asyifa Subang ini. Waktu itu, teman sesama pebisnis komputer cerita ia akan memasukkan anaknya ke pondok Asyifa. Dan ia bilang biayanya cukup mahal. Ia cerita tentang bagaimana pentingnya pendidikan akhlak dan karakter anak. Dalam hati saya berbisik sendiri, kelak, anak saya juga akan saya masukkan ke pondok itu.

Saat Andien kelas 5 dan harus pindah ke SD negeri di Bandung, di tahun 2016, saya mulai melupakan impian itu. Jangankan untuk masuk sekolah mahal, melanjutkan di SD negeri aja rasanya terseok-seok.

Naik kelas 6, saya semakin tak percaya diri untuk memasukkan Andien ke sana. Bukan cuma karena merasa "nggak mampu bayar", tapi juga Kakak Andien bukanlah anak yg pintar akademisnya. Nilai-nilainya biasa saja. Belum lagi standar sekolahnya di negeri dekat rumah yg juga tidak terlalu tinggi. 

Tapi saya berdoa tiada henti meminta padaNya, "Ya Allah, hamba ingin sekali kakak Andien masuk Asyifa. Hamba mohon mudahkan ikhtiar hamba untuk mendidiknya menjadi anak yang sholeha. Hamba ingin anak hamba jadi perempuan yang mandiri dan berahlak baik."

Tahun 2016, sedikitpun nggak kebayang mau punya uang dari mana. Sampai 2017 akhir, itu msh belum bisa nabung sama sekali.

Tapi satu yang saya yakini. Allah Maha Mendengar. Allah maha kaya. Doa itu tak pernah berhenti saya panjatkan. 
Sampai akhirnya tiba pendaftaran. Pondok ini pendaftarannya beda dengan sekolah-sekolah umum. Bulan Oktober November itu udah mulai pendaftaran anak didik.

Awalnya, kakak keukeuh nggak mau mondok. Lalu suatu hari saat liburan, saya mengajaknya keliling pondok yang saya jadikan tujuan pendaftaran kelak. Ngobrol dengan santri-santrinya, ngobrol dengan ustadz-ustadznya. Lihat kamar-kamarnya dan lihat kegiatan-kegiatannya.

Alhamdulillah kakak luluh dan memilih sendiri Asyifa dan 2 pondok lain untuk cadangan sebagai pilihannya.
Dan ketika test, kembali saya ciut. Pendaftarnya banyak lebih dr 3000an. Sedangkan yg diterima  sekitar 500an. Tanya2 ke anak yg daftar, rata-rata lulusan sekolah IT atau SD boarding juga.

Rata-rata rangkingnya bagus. Lalu saya tatap Andien yang lagi tes di dalam ruangan. Andien yang nggak pernah rangking 3 besar, bukan dari sekolah IT bahkan dari sekolah negeri biasa aja. Ahh...

Tapi do'a saya begitu kuat. Harapan saya pada pertolongan Allah begitu yakin.
Sampai akhirnya lihat pengumuman di web bahwa andien lulus. Alhamdulillah. Masyaallah. Saya sujud syukur.
Dan ketika nganter ke pondok, saya dan Andien ketawa sendiri lihat daftar teman sekamarnya. Semua dari sekolah-sekolah bagus. Semua dari sekolah-sekolah IT, dan sekolah Islami lainnya, cuma Andien yg nyempil dari SD Negeri. 😁

Untuk mak emak yang punya harapan sama. Buat emak yang kemarin bilang nggak mungkin karena biayanya mahal. Buat emak yang bilang sekarang belum punya tabungan, teruslah berdo'a. Teruslah meminta yg terbaik untuk anak-anak kita.

Tak ada yg tak mungkin baginya. 
2th yang lalu saya juga sama. Nggak punya tabungan. Nggak pernah tahu mau dari mana bayar biayanya yang untuk masuk saja hampir 23jt. Belum biaya perlengkapan dan lain yang juga jutaan. Belum lagi Danish masuk SD 10jt dan Defan masuk TK 7jt. Smua barengan Alhamdulillah 😄

Yakinlah bahwa do'a ibu bisa menjadi kekuatan maha dahsyat untuk anak-anak kita. Jangan pernah menyerah dan hilang harapan. Jangan kerdilkan rezekimu oleh prasangka-prasangka kita sendiri. Insyaalah Allah mudahkan ikhtiar kita demi anak-anak yg sholih dah sholihah.

Jangan Merasa Diri Paling Baik






Kalo ngomongin soal Hijrah. Saya suka sedih. Mata mendadak panas menahan beratnya bulir bening di sudut kelopak. Menyesal.

Hijrah saya tidaklah mudah. Sampai saat ini saya masih berjuang keras. Bukan hanya penampilan, dari yang dulu bercelana jeans ketat robek-robek, pake gelang kaki, bahkan cincin di jari kaki, kerudung dililit-lilit dileher. Kemeja dilinting sesiku. Saat teman-teman baru belajar motor bebek, saya udah bisa bawa Tiger yg ngetrend pada zamannya. Disaat yg lain baru belajar nyetir sedan, sy udah bs bawa truck. Hiks. Tomboy Masyaallah. 

Naik turun gunung, ikut berbagai perguruan silat, dll. Disaat perempuan lain di rumah luluran merawat badan, saya malah terjebak di goa bersama grup Pecinta Alam. Teman-teman saya lebih banyak laki-laki ketimbang perempuan.

Tiba-tiba saya harus belajar menjadi perempuan lembut. Merubah 360 derajat hidup saya dari berbagai hal yg sampai saat ini ternyata nggak lembut-lembut. Uhuk. 
Itu hanya sekelumit kisah hijrah yg tak ada apa-apanya. 

Satu hal yang tak pernah saya tinggalkan. Saya tak menjauh dari sahabat-sahabat perempuan. Meskipun mereka belum hijrah. Saya masih mau temenan sama mereka yg pake rok pendek. Saya masih mau ketemu sama yg pake jeans robek, saya masih menghargai teman saya yang masih pake kerudung dililit di leher. Bahkan dari kuliah hingga saat ini saya punya sahabat dekat beda agama. 

Saya memilih tidak menjauh dari mereka. Kenapa?

Karena saya pernah di posisi itu. Saya pernah begitu. Saya tau bagaimana rasanya. Dan saya juga tahu bagaimana rasanya ditinggalkan sahabat ketika saya mau belajar hijrah.

Siapa tau, berteman dengan saya skrg menjadi wasilah mereka ikut hijrah. Saya tak pernah merendahkan mereka, tak punya hak menilai mereka, tak pernah nyinyirin mereka, tak pernah merasa hijrah saya lebih baik. Tak pernah merasa diri lebih taat. Tak pernah berkomentar kok kamu begini, kok kamu begitu?

Siapa yang akan tahu?
Kelak, bisa jadi mereka lebih taat dari saya. Kelak, bisa jadi mereka hijrah lebih keras dari saya. 
Kelak, bisa jadi merekalah yg lebih mulia di mata Allah di banding saya. 
Saya tak punya hak menilai amalan mereka. Siapalah saya?

Apalagi ketika saya mengalami sendiri bagaimana kerasnya perjuangan untuk hijrah itu tak mudah.  Bagaimana panjangnya proses yang harus dijalani menuju istiqomah?

Maka pilihan saya adalah mendoakannya. Karena seburuk apapun masalalu seseorang, ia selalu punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Kita saling doakan ya teman-teman...

Peluk dari saya, perempuan lemah yang telat hijrah.
Dinii Fitriyah




Allah Sebaik-baiknya Hakim di Dunia dan Akhirat




Makin hari, makin banyak orang yang berkomentar mendadak pintar bin ahli menilai dan menghakimi saudaranya sendiri.

"Pantesan anak kamu nakal, kamu sih terlalu sibuk kerja."

"Gimana anakmu nggak kurus? Tiap hari diurus pembantu."

"Ya iyalah suamimu selingkuh, wong kamu nggak pernah merawat diri."

"Nggak aneh dia miskin terus, kerjanya gitu doang. Liat aku nih, kerja keras biar bs jadi kaya."

"Jelas aja kamu nggak hamil-hamil, makannya gituan doang sih, coba makan ini nih biar subur kayak aku."

"Katanya hijrah, kok masih pake kerudung pendek, pencitraan tuh."

Entah kenapa, akhir-akhir ini mendadak begitu banyak orang pintar yang berkomentar tentang hidup orang lain.
Mendadak banyak orang merasa ahli, paling tau ujian orang lain.
Mendadak banyak orang yang tiba-tiba merasa paling memiliki hak untuk menilai ibadah orang lain.

Siapa kita? Punya hak apa kita?

Kita tak pernah tau bagaimana beratnya berjuangan seorang ibu yang harus mengurus anak dan mencari nafkah sekaligus.

Kita tak pernah tau, sejauh mana ikhtiar seorang istri agar ia bisa menjaga ketentraman lahir batin rumah tangganya dan ternyata Allah mengujinya dengan hadirnya orang ketiga di rumah tangganya?

Kita tak pernah paham. Bagaimana orang bekerja keras jungkir balik untuk mencari rezeki demi sesuap nasi sekalipun sementara Allah sudah takarkan rezeki begitu untuknya.

Kita tak pernah mengerti, bagaimana suami istri berjuang melakukan banyak hal medis non medis menghabiskan ratusan juta rupiah demi mendapatkan buah hati yang ternyata tak semudah Allah berikan untukmu? 

Kita tak pernah tau, bagaimana seseorang hijrah meninggalkan masa lalunya dengan berat melewati banyak rintangan sampai harus mengorbankan banyak hal dalam hidupnya untuk sampai di titik ini?

Hai! siapa kita? Punya hak apa kita? Apa kuasamu?

Hanya Allah sebaik-baiknya hakim yang berhak menilai hambanya di dunia dan akhirat. Kita tak punya hak! Kita bukan siapa-siapa! Kamu bukan siapa-siapa!

Kita hanya manusia biasa yang berlumur dosa. Pekerjaan kita sudah terlalu banyak. Tanggung jawab kita sudah terlalu besar. Tak usahlah lagi disibukkan dengan menilai orang lain yang bukan hak kita.

Ingat! Itu hak Allah. Itu hak Allah.

#semangat wahai gadis muallaf 😘😘


Mengenal Sosok Mien Uno



Sejak pandangan pertama bertemu ibu dari wakil Gubernur Jakarta, Sandiaga Uno ini, saya sudah jatuh cinta.

Caranya berbicara, caranya bergerak, caranya menandang, dan caranya bersikap sangat menunjukkan kelasnya.


"Boleh dong mba Dinii, ibu dibuatkan design bajunya," lembut terdengar di telinga saya. Lembut banget, tapi sumpah bikin hati saya berasa copot dimintain bikinin design. Hahaha.

"Mbak Dinii kemarin ke panggung dengan Bu Iriana Jokowi sewaktu acara BI di JCC ya? Sayang kmrn kita nggak ketemu ya." Aihh kembang kempis hidung ternyata bu Mien masih ingat.



Tidak banyak orang yang mengetahui kisah hidup ibu Mien Uno. Dan saya bersyukur menjadi salah seorang yang bisa mendengar langsung ceritanya.

Andai saja waktunya lebih panjang, mungkin begitu banyak pertanyaan yg ingin saya ajukan.

Bagaimana di awal membangun kerajaan bisnisnya?

Bagaimana ia mendidik anak-anaknya sehingga Sandiaga Uno dan Indra Cahya Uno bisa menjadi orang-orang sukses yang berahlak baik?

Tentu tidak dihasilkan dengan tiba-tiba. Pasti butuh ibu luar biasa sehingga hasilnya bisa dilihat seperti sekarang.



Kalo melihat sosok Sandiaga Uno, bukan cuma ganteng, tapi juga sama lembutnya. Pernah dengar cerita kalau beliau mendidik anak-anaknya untuk tidak jadi orang pemarah, kalo ngomel-ngomel nanti disuruh makan cabe. Pengen nanya bener enggak. Tapi ga berani 🤣

Terima kasih untuk kencan hari ini bu Mien, terima kasih untuk motivasinya, terima kasih bukunya. 

Terima kasih Allah Yang Maha Hebat telah mempertemukanku dengan orang-orang besar dan sukses yang dulu hanya bisa kukagumi dari jauh. Bahkan hanya berani bermimpi untuk bisa bertemu. Masyaallah..

Semoga semakin menambah semangat belajar, semangat berkarya dan semangat menebar manfaat membesarkan Mouza Indonesia 

Dinii Fitriyah, 
perempuan biasa yang bermimpi jd orang sukses yang langsing.
😘😘😘

Beli Rumah Tanpa Riba, Bukan Dongeng!





Nulis ini masih percaya nggak percaya...
Kaget, terharu, amazing, campur jadi satu. Masyaallah...

Setelah dulu hidup pernah habis hancur lebur nyungseb gara-gara riba, kehilangan banyak hal, rumah, mobil, motor, semua disita, diteror debt collector, dll. Saya berjanji untuk tidak lagi berurusan dengan riba. Saya menjauh seeeejauh-jauhnya dengan yang namanya riba. 

Merelakan semua yang hilang karena riba, menutup semua asuransi dan apapun tanpa ada konpensasi apa-apa. Menutup semua kartu kredit yg berlimit fantastis. 

Tak akan pernah mendekat lagi meskipun tawaran menggiurkan datang setiap hari. Kapookkk sekapok-kapoknya!!

2016 kami memulai hidup dari minus (bukan 0 lagi). Selesai sudah hidup di rumah besar yang telah diserahkan lagi ke bank, lalu pindah ke kamar kos berukuran 3x3m. Tidur sekamar berlima desek-desekan, dengan anak-anak yang masih kecil, makan seadanya kadang cuma sekali sehari. Berbagai ujian hidup datang silih berganti. Tak terhitung perih dan air mata kami jalani penuh syukur.

Tak apa-apa. Belajar mengikhlaskan semuanya lebih baik dari pada menantang Allah perang. 
Menahan diri untuk semua tawaran menggiurkan. Mengendalikan emosi untuk semua hinaan. Nggak apa-apa terhina di dunia asal jangan terhina di akhirat.

Teman menjauh, yang ngaku sahabat menghilang. Banyak orang yang mencibir. Banyak orang yang nyinyir.

"Kalo bukan bank, mana ada yg mau minjemin duit milyaran buat beli rumah."

"Mau kontrak sampe kapan? Mendingan uang kontraknya pake nyicil."

Saya tak peduli ketika orang tak percaya. Saya meyakini Allah Maha Kaya. Saya hanya fokus memantaskan diri. Itu saja.

Saya memimpikan beli rumah milyaran tanpa riba. Tanpa KPR ke bank. Menghayal katanya mak. 

Siapalah saya. Bisnis Mouza Indonesia yg saya bangun cuma bermodal 3jt baru berjalan 2 tahun. Saya tau diri untuk tidak berharap banyak. Jangankan untuk beli rumah, untuk modalpun masih ngos-ngosan. Banyak yg menawarkan investasi, tapi saya menolak. Saya memilih hidup apa adanya. Biarlah Mouza berjalan dan besar dengan sendirinya.

"Kalo gitu, mau kapan kebeli rumahnya? Keburu mati nungguin duit kekumpul,"

Nggak apa-apa kalo nggak segera terkumpul. Nggak apa-apa kalo harus ngontrak. Nggak masalah saya harus bersabar lagi. Ngontrak lagi. Ngontrak terus. Tak mengapa.

Jangan ditanya, bagaimana lelah menghadapi yg punya kontrakan karena naik terus tiap tahun? Lelah cari-cari kontrakan baru. Lelah angkut-angkut tiap pindahan. Angkut-angkutnya sehari, encoknya sebulan.

Nggak...nggak kalo saya harus mati dengan status nggak punya rumah. Insyaallah menjadi Lillah. Mendingan saya kelelahan ngurusin kontrakan daripada saya harus melawan Allah.

Dan kemarin, ketika saya sedang cari kontrakan untuk gudang Mouza, disana ditulis Dikontrakan/ dijual. Rumahnya di kota. Dari depan biasa aja. Tp dalamnya bisa untuk main bola anak-anak. Cukup menampung 2 meja cutting sepanjang @7.5m. Cukup untuk menampung puluhan penjahit. Sangat Luas.

Bertemu dengan yang punya rumah. Awalnya saya cuma becanda pas tanya-tanya kontrak,
"Sekalian dibeli juga boleh bu kl bisa nyicil, hehehe."

"Alhamdulillah, kalo neng Dinii suka dan mau beli, mau dicicil juga boleh," jawab si ibu punya kontrakan jg sambil tertawa. Dan disambut anggukan si bapaknya.

Woww! Saya becanda mak! Saya tau diri. Jadi benar-benar cuma becanda! Jadi saat itu saya tak berharap apapun. Menganggap si ibu bapak ini juga cuma becanda. Besoknya, saya lupakan kejadian itu. 

Seminggu kemudian, si ibu bapak yg punya kontrakan datang ke kantor. Ngobrol ngaler ngidul. Dan...

Ternyata beliau serius mak.😢😢 Beliau punya banyak rumah. Ini hanya salah satu saja. Beliau sudah pensiun. Ternyata beneran boleh rumahnya saya cicil. Terserah saya sanggupnya berapa katanya. Masyaallah! 😭

Dulu, saya hancur kehilangan rumah dan meninggalkan utang senilai 1.5M gara-gara riba, kini Allah menggantinya berkali-kali lipat. Masyaallah. Saya cuma bisa sujud syukur antara percaya nggak percaya.

Sampai tadi malam, saya masih tergugu takjub. Harga rumah itu milyaran mak. Saya punya mimpi ingin beli rumah milyaran tanpa utang ke bank.

Saya pikir mimpi saya kejauhan. Saya pikir mimpi saya kelewatan.  Mana bisa. Mana ada. Tapi saya sangat meyakini janjiMu ya Allah. Yakin seyakin-yakinnya.

"Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yg lebih baik," (HR. Ahmad)

Janji Allah NYATA!
Mana ada orang yg ujug2 ngejual rumahnya dan mau dicicil semampunya.
Ternyata ada. Masyaallah 😭😭

Tapi kan jarang orang yang kayak gitu. 
Betul, saya setuju. Tapi inilah skenario Allah. Semua pasti bukan kebetulan. Tidak tiba-tiba Allah mempertemukan saya dengan mereka kalau bukan karena sudah Allah atur.

Tetaplah semangat teman-temanku pejuang riba. Tetaplah bermimpi tinggi. Kita nggak perlu mikirin caranya. Tugas kita hanya satu. Taat. Sisanya biar Allah yang menentukan. Berdoa terus...

Semoga kita adalah orang yang pantas untuk menerima keistimewaan itu. Jangan menghitung rezeki dengan caramu sendiri. Karena rezeki Allah bisa datang dengan cara yang tak pernah kita ketahui dan dari arah yang tak diduga2...

Semangat berjuang sahabatku. Semoga tulisan ini bisa memotivasi. Ini nyata. Bukan dongeng.

Doa dan support dr saya
Dinii Fitriyah
Mantan pejuang riba yang terlambat tobat. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Cerita tentang riba saya sebelumnya bisa dibaca di 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10206579253496863&id=1137356077

Selasa, 25 September 2018

Krisis Empati


Beredar banyak di timeline...

"Dollar mau naik segimana juga saya mah nggak peduli. Nggak belanja pake dollar. Sy tetap makan 3x, beras sawah sendiri, sayur nanam sendiri."



"Dollar berapa pun bukan urusan saya. Alhamdulillah msh bisa makan, sekolah anak-anak masih kebayar, semua masih kebeli, aman saya mah."



"Alhamdulillah saya mah ga terpengaruh sama dollar naik. Jadi nggak perlu dipermasalahkan. Semua masih bisa kebeli. Keluarga masih bisa makan. Itu udah cukup untuk saya."



Masih banyak lagi postingan-postingan serupa dan nggak tau kenapa, sedih aja bacanya.

Kalo harus dibilang, sama saya juga masih bisa makan enak, masih kebeli ini itu. 

Tapi ini soal empati. Bersyukur kita diberi rezeki cukup hingga tak kekurangan meskipun dollar naik. Bersyukur dollar ga berdampak langsung pada kita.

Tapi ini soal empati. Banyak di luar sana yang tak seberuntung kita yang merasakan langsung efek dollar. Mungkin kita belum atau tidak bisa membantu teman-teman kita yang merasakan efek dollar naik, tapi paling tidak kita bisa berempati. Mencoba merasakan dan memahami jika posisi kita adalah orang yang kekurangan itu.

Karena itulah saya selalu menyemangati diri saya, agar terus membesarkan bisnis. Karena hidup bukan hanya mikirin perut sendiri. Karena hidup nggak selesai hanya dengan perut keluarga sendiri kenyang, nafkah suami lancar, dll. Sementara banyak teman dan keluarga di sekitar kita yang kekurangan.

Kalau kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu negara soal dollar, kalau kita tak bisa berbuat banyak membantu teman-teman kita yang merasakan efek dollar, cukuplah kita tidak perlu berkomentar apa-apa. Nggak perlu nyinyir dan nggak perlu update soal tak berefeknya dollar pada kehidupan pribadi kita karena kita masih diberi rezeki yang cukup. 

Jangan sampe jadi sebab munculnya kesombongan. Karena Allah-lah Maha Kuasa atas rezeki yang kita punya. Dan Allah pulalah yg berkuasa pada siapa rezeki diberikan dan diambil. Jika tak bisa berempati, Cukuplah diam.

Semoga Allah lindungi negara kita. Semoga Allah limpahkan rezeki berlimpah kepada kita semua.
Aamiin...

Dinii Fitriyah, owner Mouza Indonesia yang BBnya kayak dollar. Naik terus ga turun-turun. 😁

Hati-hati Dengan Status dan Komentarmu



Teringat kejadian beberapa bulan lalu. Saya curhat ke sahabat, saya tersinggung dengan komen seseorang, dan nggak disangka, sahabat itu juga tersinggung dengan status orang yang sama.

Padahal, mana kita tau itu statusnya ditujukan untuk siapa, tapi sudah 2 orang tersinggung di waktu yang sama. 
Bukan urusan jangan baperan sama status di medsos, yes. :P

Memang, ini media sosial, tapi alangkah lebih baik jika kita pake etika dalam menggunakannya. 

Lebih baik diam jika berkata tetapi menyakiti orang lain.
Lebih terhormat diam, jika berkata bisa merendahkan orang lain.
Lebih bagus diam, jika berkata bisa membuat terhinanya orang lain.
Lebih keren diam, jika berkata bisa menjerumuskan orang lain.
Lebih bijak diam, jika berkata hanya akan merugikan orang lain.

Maka, hati-hatilah jika berkata, menulis status maupun berkomentar.

Jangan berbicara tentang mobil mewahmu di hadapan teman yang kemana-mana naik angkot.
Jangan berbicara tentang kesehatanmu di hadapan orang sakit.
Jangan berbicara betapa kuatnya kamu di hadapan orang lemah.
Jangan berbicara tentang kebahagiaanmu di hadapan orang sedih.
Jangan berbicara tentang anakmu di hadapan orang yang tidak punya anak.

Jangan bicara begitu mudahnya kamu membeli rumah mewah di hadapan orang yang untuk ngontrakpun butuh perjuangan luar biasa :P

Jika kamu belum bisa memberi banyak manfaat untuk orang lain, setidaknya kamu tidak merugikan orang lain. Mending jualan Mouza aja 🤣

Surat Untuk Mamak Bangsa Pembela Keluarga


Wahai mamak bangsa Pencari Nafkah...

Jangan sedih bila engkau terpaksa menjadi tulang punggung.
Jangan marah karena suami tak seideal yang engkau harapkan.
Jangan mengeluh bila akhirnya waktumu banyak tersita untuk bekerja dan mencari nafkah.

Karena rezeki keluarga bukan hanya datang dari suami.
Karena bisa jadi Allah mengirim rezeki anak dan suamimu melalui tanganmu.

Insyaallah apa yang engkau lakukan, menjadi amal saleh luar biasa di mata Allah. Sebagaimana ucapan Rasulullah yang termaktub dalam kitab Hiyatul Auliya,
"Nafkahilah mereka (anak dan suami), sesungguhnya bagimu pahala yang engkau infakkan untuk mereka."

Segala kebaikan nafkah yang engkau berikan, Insyaallah akan mendatangkan balasan yang baik pula. Ketika suami sudah berusaha memenuhi nafkah namun tetap tak mencukupi kebutuhan keluarga, Insyaallah usaha kita sebagai ibu rumah tangga yang membantu mencari nafkah, menjadi salah satu ikhtiar kita dalam upaya menyelamatkan keluarga.

Melahirkan, menyusui, mengurus rumah, mengurus anak, melayani suami dan juga sekaligus bekerja mencari nafkah, Insyaallah menjadi ladang pahala kita dunia akhirat.

Fighting! Kuatlah! sabarlah!

Untuk para kalian, para istri sholehah pencari nafkah, berbahagialah telah turut berjuang membela keluarga. Apa yang telah kalian nafkahkan untuk keluarga, Insyaallah akan dicatat sebagai amalan yang serupa dengan sedekah tanpa dikurangi sedikitpun.

Dan engkau para suami...
Kami membantu mencari nafkah, bukan berarti sebuah pembenaran untuk suami bermalas-malasan dan lari dari tanggung jawab menafkahi keluarga. Kami para istri, rela ikut banting tulang mencari rezeki, kami rela tidak lagi bisa menghabiskan waktu mempercantik diri atau asyik dengan hobi kami, rela melakukan semua ini demi anak-anak, suami, dan keluarga.

Dinii Fitriyah, owner Mouza Indonesia yg gagah jelita.
Foto bareng bunda Lilis Supriatin founder Inspirasi Perempuan Majalengka.

Masa Muda Tak Bisa Dibeli


Kemarin, Mouza kedatangan tamu mahasiswa IPAI ( Ilmu Pendidikan Agama Islam) UPI Bandung. Kita berdiskusi banyak hal tentang bisnis dan muamalah syariah.

Melihat semangat mereka, mengingatkan saya pada masa-masa kuliah. Kadang ada sedikit sesal, kenapa dulu saya nggak memanfaatkan masa muda dengan baik. Kenapa ga dari dulu saya belajar ini itu, gabung berbagai komunitas dll.

Hingga sekarang di usia yg lebih dr 35 saya baru menyadari betapa pentingnya punya banyak ilmu. Dan kini saya nggak mau mengulang kesalahan yang sama. Sebelum tua, saya memanfaatkan waktu dengan baik jangan sampai ada yg terbuang sia-sia. Karena waktu itu tak akan pernah terbeli dan tak akan pernah kembali.

Bukan apa-apa sih, bukan berarti terlambat pula. Tapi kali udah umur segini, udah punya anak banyak, udah punya suami, mau ngapa-ngapain banyak banget pertimbangannya.

Mau jalan-jalan keliling dunia, kepikiran anak-anak, nggak bisa ditinggalin lama. Mau ikut belajar ini itu, kasian anak-anak butuh perhatian. Mau berpetualang ke berbagai tempat, harus mempertimbangkan ini itu. Belum lagi fisik yang nggak sekuat dulu. Jalan jauh dikit cape, angkat beban berat dikit, encok. Nggak sebebas dan sekuat dulu waktu masih muda. 

Belum lagi berbagai event, lomba-lomba dan kesempatan lebih banyak untuk anak-anak muda. Misalnya kompetisi wirausaha muda, itu maximal usia 35th, ikut muda juara, max 35th, jadi PNS juga max 35th. 

Jadi pesan buat anak-anak muda, manfaatkan masa mudamu sebaik mungkin. Nggak usah ikut-ikutan nongkrong yang nggak jelas, nggak usah ikut-ikutan pacaran nggak penting. Percayalah masa mudamu hanya sebentar. Jangan disia-siakan. Karena sehebat apapun kamu nanti, waktu tak akan pernah bisa kau beli.

Mendidik Anak Tak Pernah Bisa Diulang


Mak, pernah nggak kadang-kadang kita males menjalani hari? Down ngurusin bisnis, drop ga mau ngapa-ngapain. Ide tiba-tiba menghilang.

Yang biasanya rajin jadi males.
Yang biasanya ngiklan tiap hari tiba-tiba nggak ada ide.
Yang biasanya update status tiap hari tiba-tiba nggak tau mau nulis apa.
Jenuh
Bosan
Nggak semangat

Pernah?

Saya juga pernah, sering malah.
Tapi saya tak akan membiarkan rasa jenuh, bosan dan nggak semangat itu mampir terlalu lama.

Saya tak akan membiarkan mimpi yang sudah dibangun hancur berantakan. Saya ingin anak-anak lebih baik dari saya. Saya ingin memberikan pendidikan terbaik. Saya ingin memberi mereka bekal ilmu-ilmu terbaik.

Bukan sekedar biaya sekolah anak-anak saja yang sekarang mahal.
Anak-anak pengen belajar berkuda. Lesnya 400rb/ bulan.
Pengen bisa renang, 400rb/bulan.
Belajar memanah, 500rb/bulan.
Belum SPP sekolah. Sekolah yg bagus tentu tidak murah.
Belum les Bahasa Inggris, kerasa banget sama saya bagaimana pentingnya bisa bahasa Inggris.
Belum uang jajannya.
Belum beli alat-alat penunjangnya.

Itu baru keahlian-keahlian paling dasar yang pasti akan berguna untuk bekal hidupnya. Belum lagi kalau anaknya mau les taekwondo, les musik, les melukis, les robotik, dll. Belum lagi kalo punya cita-cita kuliah di luar negeri.
Butuh uang banyaaaakk mak. 

Trus kita mau males aja? 

Hidup terus berjalan. Nggak bisa menunggu kita ada ide. Nggak bisa menunggu mood kita bagus. Waktu terus berjalan apapun yang terjadi. Nggak mau tau kita lagi susah, senang, jenuh, bosan, atau apapun. 

Anak-anak terus tumbuh.
Mereka terus berkembang tak peduli kita sedang jenuh atau malas. Mereka tiba2 dewasa dan ketika kita terlambat, kita tak bisa mengulang semuanya. 

Bisnis gagal bisa diulang.
Usaha gagal bisa memulai dr awal.
Tapi mendidik anak gagal.
Tak pernah bisa lagi diulang.