Jumat, 20 Agustus 2010

Engkaukah

Oleh : Ken Nagasi

Engkaukah itu yang mengetuki ubin-ubin kelenteng
dan menyalakan dupa. Relief naga di pintu utama
Lilin merah berjejer menuju nirwana
Wangi bunga tanjung di halaman
harum rambutmu di dalam kitab masa lalu
Dan kini kau ketuki ingatanku, kembali,
sebagai kenangan-kenangan
khusyuk di lembaran lampau


Engkaukah itu yang bermain-main dengan hujan
basah tubuhmu wewangian waktu
derai tawamu lembar-lembar angin
Engkaukah itu berfoto di dinding-dinding Sunyaragi *)
di dekat motif gajah taman air dahulu kala
geliat tubuh yang menghentikan putaran jagat raya
tak henti-henti bertanya masa depan milik siapa
Sudah lama aku melukis matamu
tapi gagal-gagal juga
: Mengapa kau tak menghilang saja?
Oke. Sudah lama aku mengerti
Matakulah yang memenjarakanmu selama-lamanya
Dan kau ada kemanapun aku memandang
sejak kasepuhan, kanoman, pelabuhan, hingga gunung jati

Engkaukah itu
menggerakkan kakiku
menjejaki kenangan?
Engkaukah itu
menggerakkan tanganku
menulis puisi kembali?

2009

*) Gua Sunyaragi di Kelurahan Sunyaragi Kecamatan Kesambi Kota Cirebon, merupakan cagar budaya Indonesia berwujud mirip candi. Nama Sunyaragi, menurut sejumlah sumber lisan lokal, berasal dari kata Sunyi dan Raga. Kitab Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Carbon menguraikan, Sunyaragi dibangun sebagai tempat menyepi dan bermeditasi para Sultan Cirebon. Kitab tersebut juga mencatat, Sunyaragi dibangun Pangeran Kararangen, nama lain Arya Carbon.

Arsitektur Gua Sunyaragi cukup unik. Sumber lisan lokal mengatakan, bagian dinding Sunyaragi berupa susunan batu karang yang berfungsi stabilisator suhu, sehingga bagian dalam gua selalu sejuk.

Secara visual, bangunan-bangunan di kompleks gua Sunyaragi lebih banyak memunculkan kesan sakral. Kesan sakral dapat terlihat dengan adanya tempat bertapa seperti pada Gua Padang Ati dan Gua Kelangenan, tempat sholat dan pawudon atau tempat untuk mengambil air wudhu, lorong yang menuju ke Arab dan Cina yang terletak di dalam kompleks gua Arga Jumut; dan lorong yang menuju ke Gunung Jati pada kompleks gua Peteng. Di depan pintu masuk gua Peteng terdapat patung Perawan Sunti. Menurut legenda masyarakat lokal, jika seorang gadis memegang patung tersebut maka ia akan susah untuk mendapatkan jodoh. Kesan sakral nampak pula pada bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Selain itu ada pula patung Haji Balela yang menyerupai patung Dewa Wisnu. *** (Dikutip dari sumber lisan, Purwaka Caruban Nagari, & Wikipedia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar