Jumat, 13 Agustus 2010

Monster itu Bernama Meningitis..

Meningitis, tiba-tiba menjadi monster yang menakutkan untukku. Mendengarnya saja kadang aku merinding. Betapa tidak, 4 bulan yang lalu, penyakit itu telah merenggut buah hatiku yang baru berumur 38 hari. Kean, pergi menghadapNya tepat dihari aqikahnya. Di saat tamu-tamu di rumah bermarhaban mensyukuri kelahirannya, Kean justru pergi ke RS karena kejang tiba-tiba. Aku tak pernah berfikir seburuk itu. Ah, kejang itu hal yang biasa pada anak. banyak anak yang mengalami hal yang sama. Apalagi Kean kejang tanpa demam. Tp, saya salah. Justru begitu berbahaya Kejang tanpa demam pada bayi di bawah umur 2 bulan.
1 hari sebelumnya, Kean tak mau minum ASI, kalaupun diberi ASI, langsung muntah lagi. Di kepalanya ada benjolan, waktu itu dokter hanya bilang klep pada bayi belum sempurna, dan benjolan di kepala adalah hal biasa pada bayi baru lahir. saya percaya saja. Tp keesokan harinya saat Kean kejang pukul 8 pagi langsung saya bawa ke RS di Indramayu.

Kean lalu di infus, dipasang oksigen, dan dimasukan obat anti kejang ke dalam infusannya. 13 jam dari situ, Kean Pergi untuk selama-lamanya, dalam 13 jam itu pula Kean tak pernah sadar dan terbangun. sementara saya terus memompa ASI agar saat Kean bangun nanti, Kean dapat menyusu dengan nyaman. Tapi, ternyata Kean tak pernah sadar. Kean tak pernah membuka matanya lagi. Kean tak pernah bangun. Kean pergi menghadapNya. Menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuanku. Sementara berkat nasi aqikahpun masih teronggok di pojok RS, dan tak sempat dibagikan semua.

5menit sebelum nafas terakhirnya, Kean panas 39 derajat dan dokter tak pernah datang meski aku sudah teriak-teriak memanggilnya, susterpun bilang tak perlu khawatir, hanya perlu kompres saja katanya. dan, 5 menit kemudian, penyakit bernama meningitis itu mengambil Kean dari pelukanku. Kean dipanggil Allah diiringi jeritanku di tengah pagi buta. Seruan istighfar dari ibuku pun tak lagi terdengar. semua tiba-tiba menjadi gelap.
Pukul 3 pagi itu juga Aku pergi meninggalkan RS bersama ibu & suamiku, diiringi tatapan suster2 dengan wajah tak bersalah (oya aku ingat, ketika mobil kami yg mulai berjalan keluar RS di kejar2 suster, hanya untuk minta ganti kain kasa bekas dipakai Kean, Rp. 14rb). tak ada ucapan belasungkawa apapun... Aku pergi tanpa mampu berkata-kata, tak ada air mata setetespun dari mataku. Perih dan sakit saat itu tak dapat terlukiskan dengan apapun... sungguh tak terperi. sakit yang terus menghantui di kehidupanku selanjutnya. di tiap malam-malamku.
sampai sekarang, aku tak faham apakah prosedur RS seperti itu (padahal aku bayar penuh, tidak pakai Jamkesmas atau apapun). Aku tak meminta dokter menyembuhkan anakku, aku hanya ingin dokter dan pihak RS melakukan yang terbaik untuk Kean. Hanya itu yang aku sesali hingga kini. Tapi, Kean telah pergi. Penyesalan itu tak pernah ada gunanya. Toh Kean tak akan pernah kembali.
Tibalah aku di titik nadir. Menatap tiap sudut ruang yang penuh dengan accesories bayi, sakit yang berlama-lama pada payudaraku. Asi yang selalu keluar hingga 1 bulan lamanya. Bengkak, meriang, sakit badan, rasanya tak ada apa-apanya dibanding sakit hati yang kurasakan. Berminggu-minggu, berbulan-bulan kurasakan kesakitan itu tanpa mampu bangkit, terlebih berjalan. Aku tak kuasa saat harus bertemu orang-orang yang menanyakan kabar Kean. Di satu dua bulan kepergiannya, masih ada yang memberi Kado, mengucapkan selamat, dan datang dengan maksud nengok kelahirannya. Mereka yang tak tau, bahwa Kean yang baru hadir, telah pergi lagi. Aku menangis sejadi-jadinya di tiap malam-malamku, serasa mimpi buruk di hari-hariku. Bahkan kadang merasa hidup telah berakhir.
Sampai saat ini, kado2 itu masih banyak yang belum ku buka. Bahkan aku tak kuasa melihat bayi tetangga yang harus terlihat tiap hari. mendengar tangisnya, melihat jemuran popoknya. Saat itu aku hanya minta, "Tuhan, aku ingin hidup. Tolong aku Ya Allah, Hamba ingin keluar dari segala kesakitan ini". Setelah itu, kucoba berdiri pelan menghadapi hidup. diantara suami dan anakku yang tersisa.
Kadang untuk mengenangnya, aku sering membayangkan saat2 sakit melahirkannya, saat2 membawanya kontrol ke bidan, saat2 menimbangnya. 2 hari sebelum kepergiannya, berat Kean sudah 5kg. nampak lucu dengan pipiya yang tembem dan sudah mulai tersenyum melihat dunia. Kini, semua itu tinggal kenangan yang tak akan terlupakan...

Dari pengalaman itu, aku hanya ingin membagi ini semua dengan ibu-ibu yang memiliki anak kecil.
pintar-pintarlah memilih RS, berhati-hatilah dengan gejala sekecil apapun pada anak kita.

Berikut Gejala Meningitis Pada Bayi

  1. Demam (tidak selalu terjadi pada setiap bayi), seperti pada Kean.
  2. Kejang pada tengkuk
  3. Rewel/Gelisah
  4. Susah Makan atau muntah
  5. Menangis terus menerus
  6. Lemah
  7. Intensitas interaksi berkurang
  8. Ubun-ubun membenjol
Menurut berbagai literatur yang saya baca, penularan penyakit Meningitis ini biasanya akibat bakteri pneumokakus bisa disebabkan oleh percikan ludah saat bersin, berbicara, batuk dari penderita kepada orang yang sehat. Selain bayi dan para lanjut usia, mereka yang saat sementara dirawat di rumah sakit diyakini yang paling sering diserang penyakit ini. dan masa inkubasi bakteri itu hanya 24 jam saja.
Menurut dokter SpA., hal ini terjadi hanya sebagian kecil bayi saja. tidak sampai 5% dari kelahiran bayi di Indonesia. dan tak kuduga Kean adalah bagian dari yang 5% itu. aku juga tak mengira pada satu malam sebelum Kean pergi, banyak suara kucing ribut bertengkar di pinggir jendela kamar, juga panci & kuali2 di dapur yang tiba-tiba berjatuhan, atau angin yang berhembus lebih dingin dari biasanya. Tak kusangka, itu adalah pertanda Kean akan pamit, meninggalkanku, meninggalkan kami semua, MenghadapNya, untuk selamanya.
Kean, Meski dengan sakit, susah sedih, penuh perjuangan, Mama bangga telah melahirkanmu ke dunia.
Demikian kisah ini saya bagikan di sini. Saya yakin akan ada banyak hikmah dibalik semua ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

8 komentar:

  1. asswrwb.....
    inna lillahi wa inna ilayhi raji'un.....turut berduka cita sedalam2nya...
    mencoba untuk merasakan apa yang ibu rasakan, menempatkan diri jika itu terjadi pada diri sendiri....astagfirullah, saya tidak berani terlalu lama untuk membayangkannya.... saya tidak punya kekuatan sebesar itu untuk membayangkannya apalagi harus menjalani...
    Mungkin tidak akan saya temukan hikmah seperti yang ibu temukan... yang ada hanya duka dan amarah....
    astagfirullah...astagfirullah...astagfirullah...

    BalasHapus
  2. Tetap tabah...
    Semoga Kean diberikan Allah untuk menuntun ibu menuju Syurga. Amin..

    BalasHapus
  3. Innalillahi wainnaillaihi rajiuun....

    Sabar ya bunda,,, membaca tulisan ini membuat saya merinding dan sedih, karna saya juga punya anak berusia 7 bulan...

    Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik lagi yaa,,,

    BalasHapus
  4. innalillahi wa inna ilaihi rojiun...
    bunda, sudah 7 bln berlalu, sudah hamil kembali kah? mudah2an Tuhan YME cepat memberi pengganti Kean ya, yg lebih lucu, dan pastinya panjang umur, sehat serta sempurna jasmani rohaninya. amin.
    bunda, sebenarnya banyak bunda yg mengalami hal seperti ini, termasuk aku, anakku yg pertama, meninggal di usia 7 bln tanpa sebab apapun, demam hanya 37,6 derajat dalam waktu 9 jam meninggal, padahal sdh diberi penurun demam dosis sesuai si kecil dan jarak 5 jam sekali. kata dokter ada kemungkinan radang selaput otak alias meningitis, memang sering menyerang tiba2 dan menyebabkan meninggal pada bayi.

    jangan sedih ya bunda, Kean selalu tersenyum untuk bunda di surga sana, dan menunggu bundanya hingga saatnya nanti. amiiin.
    banyak berdoa saja untuk Kean di surga, Kean pasti senang menerima doa bundanya ^__^

    yang ikhlas ya bunda, mudah2an Kean cepat punya banyak adik yg lucu2 pinter untuk menemani bunda n ayahnya.

    salam kenal,
    putri

    BalasHapus
  5. Inna LiLLahi wa inna iLaihi Raaji'un. ='( TuruT Berduka Yg sedalam2nya ya bu. Dan semoga calon adik Alm diberi kelancaran hingga proses kelahiran nanTi. Panjang umur dan selalu diLindungi oLeh ALLAH SWT. amin

    BalasHapus
  6. Innalillahi wainnaillaihi rajiuun....
    aku gak bs berkata apa2.aku hanya bisa bilang yg sabar ya mba..doakan Kean selalu, agar ia tenang&senang disana...
    Allah tau apa yg tbaik utk umatNya&pasti ada hikmah dibalik ini semua...
    Amin...

    BalasHapus
  7. Turut berduka bunda, insyaallah kean adalah ahli surga yg dapat menolong ke2 orang tuanya kelak. smoga disana kean dapat bermain2 dengan putra saya yg sdh lbh dlu menghadapnya pada hari ke 17 kelahirannya. bahkan pelukan dekapan kecupan untuk putraku terasa sangaat2 kurang, krn smenjak dilahirkan hari ke3 lgsg di rawat di perinatologi sampai dia kembali pada-Nya. Frustasi & benci dengan bidan & dokter yg membantu melahirkan krn tdk segera menyarankan untuk dirawat. Benci dengan dokter2 di rumah sakit putra saya dirawat yg selalu susah ditemui dan stiap kali bertemu selalu blg tdk apa2. Sampai puncaknya dia kritis & akhirnya berpulang. Tapi penyesalan itu tdk ada gunanya, stres sampai kepala saya botak pun tak terhindarkan, tapi saya segera berbenah diri krn saya yakin & pasti Allah telah menyiapkan rencana lain yg lebih indah untuk saya & keluarga. Alhamdulillah saat ini keluarga kami mendapatkan buah manis penantian kami, Putra saya sudah berusia 14,5 bln dia tumbuh sehat & pintar. Sabar bunda ... smoga penggantinya kelak lbh baik & lebih sehat. insyaallah tabungan kedua orang tuanya. amin

    BalasHapus
  8. ya Allah sedih banget bacanya... Sabar ya mba Dinii, mba dinii wanita istimewa..

    BalasHapus