Selasa, 06 Januari 2015

Perjalanan

Perempuan itu terduduk sendiri di kursi nomor 16D kereta ekonomi jurusan Tegal. Matanya tampak menyiratkan kelelahan yang luar biasa. Pelan pelan ia menyandarkan kepalanya ke dinding kereta. Seolah ingin menumpahkan lelahnya disana. AC kereta tak mampu mendinginkan suasana hatinya, tak mampu juga menghapus peluh yang menetes di sela2 telinganya. Wajahnya yang putih bersih tanpa polesan kosmetik itu tampak pucat. Gurat2 kelelahan itu membuat ia terlihat lebih tua dari usianya. sesekali matanya terpejam, Suara Anggun C Sasmi dari speaker kereta sedikit membuat rasa lelahnya mereda.
Bukan untuk pertama kalinya. Seperti juga sebelum ini. Hingga lelahnya tak berujung. Terus dan selalu begitu. 
Bagi kebanyakan perempuan, mungkin merupakan kebahagiaan bila bisa selalu berkumpul dengan anak-anak dan keluarga, bisa pergi ke salon merawat tubuh setiap minggu, pergi berenang bersama anak-anak atau melepas lelah dengan shoping di mall-mall besar.
Tapi tidak demikian yang dialami Marya, demikian perempuan setengah baya itu biasa dipanggil. Ia wanita mandiri, tidak bergantung pada suami. Bukan tidak bergantung sebenarnya, tapi terpaksa harus mandiri karena nampaknya ia salah memilih suami.

(Bersambung)