Kamis, 09 April 2015

Namaku Sri

Namaku Sri, menyandang nama itu di depan nama lengkapku sejak lahir pernah membuatku muak. Bagaimana tidak, meski papahku bilang bahwa itu ciri khas, jati diri  yg diambil dari dewi padi, dewi sri dari Palembang, menandakan bahwa aku terlahir di sana, tapi tidak demikian kenyataannya.
"Harusnya teteh bangga," begitu kata papah.

Sri, begitulah orang menyebut nama itu dengan kesan sinis dan merendahkan, setidaknya seperti itu yang terdengar di telingaku. Ketika keluarga kami pindah ke Jawa Barat bahkan tak ada satu orangpun yg menganggap namaku diambil dari nama seorang putri khayangan. Kata tanteku, namamu seperti nama pembantu si anu, namamu seperti orang jawa koek, seperti nama tukang jamu, begitu sering kudengar, berkali-kali. Rasanya lumayan "nyelekit".
Bukan cuma itu, selama tercatat menjadi pelajar di sekolah, bahkan sampai menjadi mahasiswa, selalu banyak nama sri di kelas, bahkan bertebaran di setiap sekolah lain. Sehingga terkesan sangat pasaran. Untungnya aku dipanggil Dinii. Penggalan dari nama tengahku. Sri Noerdinii Fitriyah.
Tapi, pernah juga bersyukur mempunyai nama itu. Ketika SD, aku bersekolah di satu2nya SD Negeri di desa terpencil (bahkan satu2nya SD yg kutahu yang ada di desa itu) di satuan pemukiman transmigrasi di Kecamatan Babatoman, ujung kabupaten Musibanyuasin, di sanalah aku dilahirkan lebih dari 30 tahun yang lalu.