Jumat, 02 Juni 2017

Sedekah Ekstrim


   Gara-gara membahas Bazar Mouza untuk tahun ini, jadi ingat bazar tahun kemarin. Saya, mungkin tak banyak menulis di medsos kisah marketing langit yang saya lakukan. Tidak banyak juga yang saya ceritakan ke siapapun. Hanya pada agen-agen karena mereka juga banyak terlibat didalamnya. Tidak hanya menuai pro dan  kontra, dituduh Riya, pamer, dan lain-lain.
   Sebenarnya niat saya hanya mengumumkan pada pihak yang terlibat karena mereka kebanyakan yang ikut aktif di Facebook. Bahkan ketika saya upload foto selesai sholat Ied juga (seperti yang banyak temen2 lain lakukan) dikomentarin Riya dan terjadi perdebatan di sana. Akhirnya, saya memutuskan untuk menguranginya.
   Seperti tahun kemarin, saya ikut Bazar menjelang di pertengahan ramadhan. Promo bazar saya update juga di medsos. Tidak lama setelah itu saya membaca status sebuah akun, yang isinya kurang lebih, "Saya tidak tertarik ikut bazar, saya tidak tertarik obral barang jualan. Ini bulan ramadhan, saya hanya ingin fokus ibadah dan mendekatkan diri pada Allah," Kurang lebih isinya begitu, persisnya saya lupa. Tapi, saat itu tidak ada yang tau...
   Sejak dulu, saya punya tanggungan puluhan anak yatim. Saat bangkrut,  lebih dari setahun saya tidak menemui mereka. Jujur saya sedih, melihat mereka banyak berharap sama saya. Sampai akhirnya Mouza lahir. Saya berharap ini bisa menjadi awal yang bisa memberikan jalan pada saya untuk membantu mereka.
   Tahun kemarin, merupakan Ramadhan pertama bagi Mouza. Saya dan teman-teman di TDA sering sharing untuk sedekah ekstrim. Kalau guru saya bilang, sedekah membabi buta. Sementara Mouza baru beberapa bulan, tidak ada persiapan apa-apa. Usaha yang bisa saya lakukan untuk membantu banyak orang adalah "panen" itu.
   Saya ingat awal ramadhan saya telepon mamah dan bilang, "Mah tolong data dan temui lagi anak yatim yang saya asuh," 
Mama menjawab, "Sadaya? bade sapalih? nya aya kitu teteh artosna?" Saya diam. Saya tidak langsung menjawab, karena memang uangnya belum ada. Tapi, saya akhirnya menjawab, "Sadaya, Insyaallah engke aya, diayakeun," kata saya yakin.
Sampai pertengahan ramadhan, uangnya blm cukup. Masih sangat kurang, karena itulah saat diajak temen bazar sosial saya ikut serta.  
   Bazarnya tidak sampe tiga hari, tapi Alhamdulillah ramai. Sujud syukur, kekurangan untuk anak yatim itu akhirnya tertutupi. Bahkan lebih. MasyaAllah....
   Status itu begitu membekas di hati saya. Sampe nangis karena merasa saya orang yang mungkin sangat kurang ibadahnya di bulan ramadhan. Saya tertohok. Disaat yang lain sibuk mengejar pahala, saya malah gelar bazar cari duit.
   Saya seharusnya mempersiapkan ini jauh-jauh hari, bukannya bazar di saat ramadhan. Tapi Alhamdulillah mamah mengingatkan, "Orang hanya melihat dan menilai dari luar, kita yang tahu diri kita sebenarnya, orang lain hanya bisa berkomentar,"
   Kita tidak akan bisa memberikan rasa puas semua orang yang ada di dunia ini. Sebaik apapun yang kita lakukan pasti ada yang tidak suka. Begitu juga saya, orang tidak akan melihat seperti apa niat dan tujuan dari apa yang telah saya lakukan. Mereka hanya menilai apa yang saya lakukan dari perspektif mereka sendiri.
   Disukai atau tidak saya akan terus melakukan kebaikan yang pernah saya lakukan. Saya berusaha memberikan manfaat untuk orang lain dari apa yang telah saya lakukan. Ramadhan ini, Mouza gelar bazar lagi. Terserah habis ini mau muncul status apa. In sya Allah sudah nggak baper.😃

Tidak ada komentar:

Posting Komentar