Jumat, 29 September 2017

Jangan Abaikan Jualan Dagangan Saudara Kita


Berseliweran ikhwah kita ngiklan produk-produknya di medsos/ grup kita.

Ada yg jualan _sosis, bakso, kopi, bandeng presto, cireng, baju muslim,batik, herbal, jasa pengiriman paket, beras, minyak goreng dll.

Kadang kita abaikan, karena barangkali saat itu kita belum membutuhkan.

Kadang kita abaikan karena barangkali kita menilai harganya sedikit lebih mahal dari tempat kita belanja.

Terkadang kita abaikan,  karena saat benar-benar membutuhkan kita lupa bahwa saudara kita pernah menawarkannya.

Ikhwah fillah,
Keluarga saudara-saudara kita adalah keluarga-keluarga dakwah.

Bensin yang terbuang di jalan, adalah bensin-bensin yg bercecer di jalan dakwah, atau minimal bukan di jalan kemaksiatan insyaa Allah.

Hasil berdagang mereka adalah untuk memberi nafkah keluarga dakwahnya.

Yang istrinya tertatih-tatih membawa anak-anak kecilnya untuk hadir di halaqah-halaqah tarbiyah kita, 
Yang anak-anaknya kita semai bersama agar kelak menjadi penerus perjuangan dakwah kita.

Lebih mahal seribu dua ribu tidak akan membuat mereka kaya raya.

Andaipun mereka kaya raya di jalan dakwah ini, insya Allah akan kembali kepada dakwah... Masyaa Allaah...

Mari ikhwah, kita mulai...
memperhatikan dagangan saudara-saudara kita....
Jangan pernah merasa terganggu karena tawaran-tawaran mereka...

Lebih baik lagi, jika kita menyimpan iklan-iklan mereka dan memprioritaskan membeli kepada saudara kita saat benar-benar membutuhkannya nanti...

Mari kita hidupkan ekonomi saudara-saudara kita...

Karena mereka sedang berdagang, menjalankan sunnah Rasulullaah yang mulia....
Karena mereka berdagang untuk menjaga kemuliaan dan martabat keluarganya....

Mari mulai dari diri sendiri dan keluarga kecil kita di group-group halaqah kita...

Ketika kita membutuhkan laundry, adakah saudara kita yg menjalankan bisnis jasa laundry?

Ketika kita membutuhkan beras, sabun,  adakah saudara kita yg pernah menawarkan beras?

Lihatlah sekeliling ikhwah-ikhwah kita. Mereka tidak membutuhkan belas kasih, tapi pemberdayaan...

Bismillah...

*Ust Burhan abu Adam

Wahai Ibu Pencari Nafkah


Jangan sedih bila engkau terpaksa menjadi tulang punggung.
Jangan marah karena suami tak seideal yang engkau harapkan.
Jangan mengeluh bila akhirnya waktumu banyak tersita untuk bekerja dan mencari nafkah.

Karena rezeki keluarga bukan hanya datang dari suami.
Karena bisa jadi Allah mengirim rezeki anak dan suamimu melalui tanganmu.

Insyaallah apa yang engkau lakukan, menjadi amal saleh luar biasa di mata Allah. Sebagaimana ucapan Rasulullah yang termaktub dalam kitab Hiyatul Auliya,
"Nafkahilah mereka (anak dan suami), sesungguhnya bagimu pahala yang engkau infakkan untuk mereka."

Segala kebaikan nafkah yang engkau berikan, Insyaallah akan mendatangkan balasan yang baik pula.

Ketika suami sudah berusaha memenuhi nafkah namun tetap tak mencukupi kebutuhan keluarga, Insyaallah usaha kita sebagai ibu rumah tangga yang membantu mencari nafkah, menjadi salah satu ikhtiar kita dalam upaya menyelamatkan keluarga.

Melahirkan, menyusui, mengurus rumah, mengurus anak, melayani suami dan juga sekaligus bekerja mencari nafkah, Insyaallah menjadi ladang pahala kita dunia akhirat.
Fighting!! Kuatlah! Sabarlah!

Untuk para kalian, para istri sholehah pencari nafkah. Berbahagialah telah turut berjuang membela keluarga. Apa yang telah kalian nafkahkan untuk keluarga, Insyaallah akan dicatat sebagai amalan yang serupa dengan sedekah tanpa dikurangi sedikitpun.

Dan engkau para suami..
Kami membantu mencari nafkah, bukan berarti sebuah pembenaran untuk suami bermalas-malasan dan lari dari tanggung jawab menafkahi keluarga. Kami para istri, rela ikut banting tulang mencari rezeki, kami rela tidak lagi bisa menghabiskan waktu mempercantik diri atau asyik dengan hobi kami, rela melakukan semua ini demi anak-anak, demi suami, demi keluarga.

#untuk para agen Mouza pembela keluarga..

Salah Satu Cara Efektif untuk Promo

Dari kemarin heboh banget soal harga inbox boleh apa enggak. bahkan ada yg mempersoalkan halal haram, hihi
Ada lagi yang katanya FB itu bukan tempat jualan jd wajib inbox. Segitunya :D

Kalau saya?
Kalau statusnya jualan di Facebook, entah itu soft selling, story telling atau apalah namanya, saya memang jarang langsung menyebutkan harga. Tapi bukan berarti nggak mau. Kalau memang perlu, sesekali nggak masalah.
Tapi, ketika ada yang tanya di kolom komentar, saya pasti langsung jawab, nggak pake inbox-inboxan.
Kenapa?

Karena saya mikirnya pengen dapat orderan banyak, ratusan misalnya (Aamiin) :D
Kebayang kalau ada 100 yang komen "Berapa sis?", maka saya juga harus membalas komentarnya, "inbox ya sis," 100x :D
Belum lagi kalau ternyata banyak yang penasaran dan langsung inbox, ada ratusan orang yang inbox hanya untuk bertanya, "Harganya berapa?" 
Yang sudah disebut harga jelas saja seringkali ditanyakan lagi, apalagi engga :D

Nah, ga mungkin kan saya juga harus bolak balik buka inbox hanya untuk menjawab harga produk, yang notabene orangnya belum tentu beli. 
Menulis komentar, membuka messenger dan menjawab chat juga butuh waktu dan energi loh.
Buruk-buruknya sih, "Gamis Orima harganya berapa sis?"
Saya jawab, "249rb kak,"
Abis itu, pasti nggak sedikit yang stop chat dan menghilang, bilang makasih pun tidak  :D #nyesek kan :D
Bisa2 bengkak jempol jawab inbox doang :P

Enaknya sih, enaknya ya. Ngiklan itu ya harganya sudah jelas. Jd yang inbox itu paling tidak, sudah pasti berminat dan tertarik meskipun ujung-ujungnya belum tentu beli. Tinggal balik lagi bagaimana usaha kita, negosiasinya dan soal rezeki.
Nggak usah dibawa rempong.

Ya sudah jangan dipersoalkan inbox atau enggak ya, yang penting mah ngiklan, ngiklan, ngiklan :D

Posting, posting, posting. Jangan hanya menunggu inbox :D

Seberapa Pantas?


Kita selalu beralasan untuk menjemput rezeki, tapi berharap Allah tanpa alasan memberi kita limpahan rezeki.
Kita seringkali males mencari rezeki, tapi berharap Allah rajin memberi kita rezeki.

Cita-cita itu harus dicapai, dikejar, diwujudkan. Bukan cuma digantungkan setinggi langit dan berharap jatuh diantara bintang-bintang.

"Tapi saya sibuk ngurus anak,"
"Tapi saya nggak ada waktu,"
"Tapi saya nggak bakat bidang ini,"
"Tapi...,"
"Tapi...,"

Jangan suka menumpuk alasan. Orang yang suka mencari-cari alasan, tak akan pernah habis untuk menciptakan alasan selanjutnya.
Setelah muncul 1000 alasan, pasti akan muncul alasan ke 1001 dan seterusnya.

Biasanya yang membuat orang malas itu karena ingin sekali action langsung keliatan hasilnya. Padahal, proses dan perjuangannyalah yang akan membuat kita bernilai.

Allah memberikan sesuatu pada hambanya pasti sesuai kapasitasnya. Ketika apa yang kita harapkan tidak juga terwujud, coba tanya pada diri sendiri.
Seberapa pantas kita menerimanya?
Sudah layakkah kita menerimanya?
Sudah seberapa keras usaha kita?

Daripada kita membuang waktu mencari alasan basi, mendingan kita bersemangat memantaskan diri. 

Agar saat hasil itu ada atau keberhasilan itu muncul. Diri kita sudah benar-benar dalam kondisi siap dan pantas.

Begitulah Hidup


Di dunia ini, selalu ada yang suka dan tidak suka, selalu ada yang pro dan kontra, selalu ada yang membela dan membenci.

Orang tidak pernah mengingat dan menghargai kebaikanmu, orang lebih cenderung melihat kelemahanmu. Satu kelemahanmu, terkadang bisa menutupi sejuta kebaikanmu. 
Walau demikian, tetaplah menjadi baik selamanya.
Karena kebaikan tidak memerlukan pengakuan.
Orang baik tidak perlu membuktikan apa-apa.
Orang baik itu berpegang pada kejujuran hati nurani dirinya sendiri.

Tidak perlu menjelaskan apa dan siapa dirimu.
Sebab orang yang memahami kamu, tidak perlu itu.
Sedangkan yang hatinya iri dan dengki.
Sebaik apapun yang kamu lakukan, tetap ia tak akan percaya itu.

Tetaplah ikuti hati nuranimu. Tak perlu memikirkan opini orang terhadapmu. Tak perlu memikirkan orang-orang yang benci kepadamu. 
Karena hal sebaik apapun yang kau lakukan, akan tetap nampak buruk di mata orang yang membencimu.
Sehebat apapun yang kau lakukan, akan tetap nampak salah di mata orang yang yang tak menyukaimu. 

Sebaik apapun status kamu, akan tetap dipandang nyinyir oleh orang yang iri padamu.

Semoga kamu, iya kamu. Bukan termasuk orang yang membenciku. 

Ibu Selalu Takut Merepotkan Anaknya



Kemarin, saya pulang. Sekedar melepas rindu pada mamah dan papah. Sekedar bisa memeluk dan menciumnya yang sebulan sekali belum tentu bisa saya lakukan.

Karena cuma sehari, saya memastikan bahwa kebersamaan ini berkualitas. Saya ajak mamah makan di luar. Menikmati makan di saung yang berdiri di atas kolam.

Niatnya pengen nyenengin mamah. Tapi pas pesen makan, tiap kali lihat menu, mamah bilang.
"Ya Allah, pira kangkung sapiring meni Rp. 15.000."
"Teh tong pesen lauk ah, meni mahal,"
"Kagila-gila teuing goreng tempe 3rebuan?"

Dan ungkapan-ungkapan lain yang menyayangkan harga makanan yang kalau di rumah bisa diperoleh dengan harga yang jauh lebih murah.
Begitulah ibu, padahal bukan mamah yang bayar. Padahal bukan mamah yang masak. Padahal mamah tinggal duduk manis aja dan menikmati hidangan.

Tapi mamah selalu khawatir harga-harga itu menyusahkan anaknya. Mamah akan selalu merasa anaknya membayar terlalu mahal untuk "sekedar" makanan yang bisa dibuatnya sendiri di rumah.

Begitupun kalau kita bawa oleh-oleh pulang,
"Kalau mau pulang, pulang aja, tong cacandakan sagala teuing,"
Padahal kalau mamah yg berkunjung, segala-gala dibawa. 😀
Atau ketika saya kasih gamis, malah  maksa bayar.
Atau kalau dikasih uang pasti nanya dulu, tetehnya ada nggak, cukup nggak, suka nggak mau dan malah nyuruh ditabungin.
Dan kalau saya telepon berjam-jam nanti akan bilang, "teteh tos heula atuh bilih seep pulsana,"

Dan saya tak bisa apa-apa selain berkata, "mah, jangan protes. Tolong kasih kesempatan teteh nyenengin mamah,"

Dan yang belum kesampaian saat ini adalah  umroh bareng mamah. semoga urusan pasportnya cpt selesai. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Adakah ibunya yang seperti mamaku? 😊

Saya Bukan Ibu yang Baik

Saya Bukan Ibu Yang Baik


Ya. Saya bukan seorang ibu yang baik. 
Ketika anak-anak tak ada satupun yang meminta hadiah. Ketika melewati toko buku, saya malah sibuk mencarikan buku sebagai hadiah mereka.

Ketika anak-anak berulang kali dibelikan mainan dan berulang kali pula mereka merusaknya. Saya tak pernah jera untuk membelikan dan membelikannya lagi. Tanpa syarat.

Ketika seorang anak harusnya jangan banyak jajan ini itu. Tapi setiap belanja, yang saya ingat justru jajanan anak-anak dan saya bahkan tak peduli ketika uang yang saya bawa hanya cukup untuk itu. Bahkan saya tak peduli meskipun kadang makanan itu tidak smua mereka habiskan.

Saya kira, mengandung dan melahirkan adalah hal terberat yang dihadapi seorang ibu, tapi ternyata saya salah. Mendidiknya di sepanjang hidupnya justru jauh lebih berat daripada melahirkan setelah mengandungnya lebih dari 9 bulan. 

Saya sadar, mendidik anak adalah soal dunia akhirat. Soal syurga dan neraka. Di bawah kakiku, ibunya, syurga ini berada. Anak pulalah yang akan membawa kita ke syurga atau sebaliknya. Tapi saya juga sadar, ilmu parenting, diskusi soal anak, ilmu cara mengajarkan anak, itu prakteknya tak semudah yang saya kira (susah cyiinn 😣😣)

Hari ini, ketika anak-anak memelas minta nonton TV di bukan jamnya. Demi melihat mereka sudah mau menahan sakit karena disunat, lagi-lagi saya melanggar. Saya ambilkan remote dan membiarkan mereka menonton TV. 

Ah, anak-anakku...maafkan mama. Mungkin benar mama bukan ibu yang baik. Mama tak pernah bisa melihat kalian sedih. Mama tak pernah tega melihat kalian susah. 
Tapi kelak, kalian akan mengerti, bahwa menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Dan semoga kalian memahami, bahwa semua karena mama sayang kalian. 

Ya, saya seorang ibu yang payah, yang Alhamdulillah dianugerahkan anak sesholeh Andien, Danish dan Defan.

kakak, abang, dede..
I love u all
😘😘

Tak Ada Kata Terlambat Untuk Memulai


Ingat perkataan seorang "konsultan bisnis", sekitar 3 tahun yang lalu ketika kami datang kepadanya dalam keadaan luluh lantak. 

Di sela-sela makan siang bersama, dia berkata,
"Kalau memulai lagi bisnis dari 0 bahkan minus (tanpa aset, utang banyak) seperti teteh dan mas ade, di usia lebih dari 30 tahun, itu sulit, berat, berat, berat banget."

Beliau ucapkan kata "berat" itu berulang-ulang sambil menggelengkan kepala. Terasa ada beban yang berjatuhan seketika. Selanjutnya udah nggak bisa denger lagi arah pembicaraan itu kemana, yang ada hanya sekuat tenaga untuk menahan air mata.

Perkataan itu masih terngiang-ngiang hingga sekarang.
Tapi, justru di situlah semuanya dimulai.
Perkataan itulah yang akhirnya membuatku bertekad bangkit lalu berdiri, merangkak dan belajar melangkah lagi, hingga sekarang di sini. Saat ini sudah sampai di sini. Satu kalimat yang terus kuucapkan dalam hati dan ingin kubuktikan.

"Kalaupun perkataan itu benar, maka aku adalah pengecualian".

Bos KFC aja mulai usaha di usia 65th, John Pemberton aja baru mulai Coca Colanya di usia 55th. 

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu masih ragu-ragu memulai bisnis hanya karena usia? Bukankah kesempatan selalu ada hingga kita tutup usia? 

Jangan mikir terlalu lama, karena tak pernah ada waktu yang tepat untuk sukses jika kita tak pernah mau memulainya.

Mulai dari sekarang, evaluasi dan perbaiki. Terus istiqomah dalam menjalankannya sampai tercapai semua yang diharapkan.

Karena bisnis itu dikerjakan bukan hanya direncanakan. Seperti mimpi yang tak akan pernah tercapai jika kita tidak pernah mau bangun dan mulai bergerak.

Senin, 25 September 2017

Kasih Tak Sampai



Oleh Dinii Fitriyah
.
Aku duduk sendiri di sudut kamar. Membuka secarik kertas lusuh yang hampir sobek. Kubaca bolak balik, berulang ulang.. ada yang menggenang di sudut mata, hampir jatuh.. kutarik nafas dalam2 mencoba bertahan.

Puluhan tahun berlalu.. meski kadang terlupakan karena kesibukan, semua peristiwa itu tak pernah luput dari kenangan
"Aku minta maaf," katamu waktu itu. Kalimat terakhir yang singkat namun berat, yang kudengar lirih dari mulutmu.

Kemudian kau pergi, berlalu dari hadapanku. Pertemuan terakhir kita yang tak pernah aku harapkan. Yang kemudian tak kusangka menjadi kesempatan terakhir aku melihatmu.
"Aku janji, apapun yang terjadi, aku akan tetap mengirimmu surat. Takdir kita, biar Tuhan yang menentukan, mungkin suatu saat aku akan kembali," bisikmu kemudian."
Lalu kau ambil kunci motor, menstater cepat dan berlalu dari pandanganku tanpa menoleh lagi. Aku tau tak ada air mata di sana, tapi ada hati yang tersayat menyaksikanmu pergi dengan luka yang dalam.
.
Waktupun berlalu. Bulan demi bulan terlewati. Suratmu tak pernah datang. Aku tak bertanya mengapa. Juga tak ingin tahu apa sebabnya. Hanya aku kadang rindu mengingat kenangan ketika pertama bertemu saat aku berseragam putih biru. Aku kira itu pertemuan biasa saja. Hanya tentang seorang anak SMP yang bukunya tertinggal diangkot dan kebetulan kau yang menemukannya. 

Lalu tak sengaja terjadi pertemuan beberapa tahun kemudian, ketika kau lihat aku berdiri di sudut jalan menunggu angkot yang tak kunjung lewat. Tujuanku masih jauh. Kota ini tak begitu kukenal. Hanya demi sepupuku aku rela berpanas2an naik bis dan angkot sejauh ini. 
"Ini udah sore, ga baik di sini sendirian, yuk kuantar," katamu ramah.
Itulah kali pertama kita bicara panjang lebar selama perjalanan. Dan aku senang kau mengenalkanku pada ibumu. 

Kami tinggal di tempat yang berjauhan, tapi bisa tak sengaja bertemu 2x di tempat yang berbeda. Pastinya bukan sekedar kebetulan. 

Takdir membawa kita pada pertemuan2 berikutnya. Kadang hanya bertukar buku atau diskusi tentang Dos, WS dan bertukar disket. Sesekali makan somay atau baso di pinggir jalan. Tak ada yang istimewa. Tapi aku mulai merasa bermakna dalam. Aku mulai sering berharap, ada pertemuan kebetulan lagi, dan lagi.

Sampai akhirnya kau datang untuk pertama kalinya ke rumah. Dan aku tau, ada pandangan tak suka saat pertama kali bertemu bapak.

"Bapak tidak suka pada laki2 itu," kata bapak suatu hari saat aku menyiapkan makan malamnya.

Sejak itu, aku tau, ada rentang jurang yang membentang antara kita. Yang rasanya tak mungkin kita sebrangi.

Sampai akhirnya kaupun pergi. Kemudian tanpa kabar. Suratmu tak pernah datang. Bahkan aku tak pernah tau kau dimana dan bagaimana setelah selesai kuliahmu.

Aku pegang janjimu. Aku selalu menunggu suratmu. Meski tak berani berharap kau akan kembali.

Sampai akhirnya kesempatan itu datang. 
"Kalau kamu sudah yakin, bapak tak bisa menahan. Cari dia dan ajak menemui bapak lagi,"

Taukah kamu bagaimana perasaan saat itu? Ada kebahagiaan luar biasa membuncah melimpah ruah saat mendengar kalimat itu dari mulut bapak. Tak sabar rasanya menunggu esok pagi tiba. 
Hampir setahun aku tak mendengar kabarmu. Mungkin rasa kecewa dan sakitmu terlalu dalam. Saat menyadari bahwa takdir tak bisa menyatukan kita. 
Tapi tidak.
Besok aku datang. Aku akan melompat2 kegirangan di hadapanmu dan berkata, "bapak merestui kita,"
Membayangkan wajahmu sumringah, rasanya membuat malam begitu lambat berlalu.

Ahh rasanya aku tidak sabar lagi menunggu matahari terbit. Jam dinding di tembok kamarku terasa begitu pelan berdetik.
*
Akhirnya takdir membawaku ke sini lagi. Tapi bukan lagi mau menemui sepupuku yang sudah pindah. Tapi ada yang lebih istimewa daripada itu.

Kutarik nafas dalam2. Bergetar rasa dihati membayangkan pertemuan yang akan terjadi sebentar lagi. Membayangkan kejutan yang akan dia terima dengan kedatanganku. Ahh, andai saja waktu itu sudah ada telepon genggam, mungkin aku tak perlu repot2 begini. Jikapun ada, tak semua orang bisa memilikinya. Apalagi untukku yang semester 2 aja baru dimulai. Belum lagi sinyal yang juga tak semudah sekarang.

Dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirku, kulangkahkan kaki dengan pasti ke alamat yang sudah tak asing lagi. 

Jalan di desa ini belum banyak yang berubah. Masih sepi, berkerikil dan rumah2 berjauhan. Sunyi. Tapi aku suka. Bukan karena ada yang istimewa di sini. Tapi aku merasakan ketenangan saat jauh dari keramaian.

*
Rumahnya sudah dekat. Warung milik ibumu sudah nampak di kejauhan. Tergesa aku berjalan. Tak sabar bisa tiba di rumahmu lebih cepat lagi.
Kulihat ibumu juga sedang memandang ke arahku. Aku tersenyum dan sedikit berlari.
Tapi, ini di luat perkiraanku. Sampai tiba di depan rumahmu, di hadapan ibumu. Ibu tak segembira yang aku kira. Kufikir ibu akan senang bertemu denganku. Tapi tidak. Ia diam. Tak menyapaku. Tak memelukku. Bahkan tak tersenyum. Hanya memandangku nanar.

Dalam heran kuberanikan diri bertanya.
"Ibu, sehat?" Kataku sambil meraih tangannya.
Ibu mengangguk ngangguk sambil menyodorkan tangannya. Ibu tetap tak bicara. Bahkan tetap tak tersenyum.
"Ibu apa kabar? Lama tidak bertemu, ibu kurusan," selorohku bercanda memancing pembicaraan. Berusaha mencairkan suasana.

Tiba2 ibu menggenggam tanganku erat. Memelukku sampai nafasku sesak. Lama. Sesekali terdengar isak.
Aku tak mengerti.
"Ibu menangis? Kenapa?" Kataku berusaha melepaskan pelukan. 
Tapi ibu malah mengencangkan pelukan dan tangisnya pun pecah. 
Masih dalam heran, ibu mengajakku duduk di rumahnya. Ia mengusap air mata. Menyuruhku duduk dan menunggu sementara ia ambilkan air putih.

"Sama siapa ke sini, nak?"
"Sendirian bu," jawabku senyum.
"Ohh, ibu senang kamu datang," katanya sambil tetap tersenyum.

Ibu sibuk membukakan toples kue. Aku memandangi sekeliling. Di kiri kanan tembok rumah sederhana ini, terpampang banyak fotomu, dari mulai kau pake baju seragam SD hingga menggunakan toga kebanggaanmu. 

"Aku sudah bekerja, alhamdulillah diterima di PLN," katamu dulu. Dan aku senang sekali mendengarnya. Persis dengan cita2mu. 
"Selamat ya pak insinyur," kataku berkelakar.
Ahh, tak sabar rasanya kita bertemu. Kita akan bersama merencanakan banyak hal, berdua berjuang meraih banyak mimpi. Kita pasti bahagia, mas. Bisikku dalam hati.

Dan sekarang, aku di sini. Di rumahmu. Sebentar lagi bertemu.

"Mas kemana bu? Kok aku ga lihat?" Kataku memberanikan diri bertanya. Menyadari tujuan utamaku datang ke sini.

Ibu terdiam. Menarik nafas dalam2. Seolah ada beban berat yang menghimpitnya.

Ibu berdiri. Memegang tanganku. "Yuk kita ke sana," katanya.
"Kemana bu?"
"Menemui masmu," senyumnya nampak dipaksakan.
Aku manut, mengikuti tarikan tangan ibu yang terasa lembut. 
Ah mas, membayangkan hidup denganmu, dengan ibu selembut ini, rasanya sempurna sudah hidupku

Kami berjalan lebih dari 500m. Melewati jalan kecil, kebun2 dan bunga di kiri kanan  jalan. Entah ibu mau membawaku kemana. Sepanjang jalan sesekali aku becanda. Meski lebih banyak kaku dan tak bisa membuat ibu tertawa. Aku lihat ada mendung di sana. Ada duka yang tak bisa kufahami namun tersimpan ketegaran.

"Mau kemana bu? Mas dimana? Masih jauh?" Kataku tak sabar.
"Sebentar lagi," jawab ibu.

Sampai akhirnya  ibu menghentikan langkahnya yang kemudian diikuti berhentinya langkahku.

"Kuburan? Makam? Mau apa kita ke sini bu?" Perasaanku mulai tak enak saat menyadari kami berada dimana.

Ibu menarik lagi tanganku. Hingga tiba di salah satu nisan yang penuh bunga2 putih dan terawat rapi.

Aku tercekat. Tak mampu berkata2. Tiba2 terasa kepalaku berat. Seolah ada ribuan ton beban yang menghimpitku seketika. Dunia terasa berputar putar kencang. Lututku goyah. Seluruh sendiku tak bertenaga. Aku terduduk di tanah merah. Memegang batu nisan. 
Disana tertulis namamu.

"Anak ibu satu2nya, meninggal satu tahun yang lalu. Ia kecelakaan. Motor yang dikendarainya tabrakan dengan mobil, sepulang dari menemuimu untuk terakhir kalinya. Meninggal sehari setelah kejadian. Dan ia sempat berpesan, jangan pernah memberitahu kabar ini padamu, nak,"
Suara ibu terdengar samar. bergetar. 
Tiba berkelebatan dalam ingatanku. Pertemuan terakhir itu. Janji itu. Mimpi2 itu. Restu bapak.
Kini aku menemukan jawabannya, kenapa suratmu tak pernah datang. 

Hujan mulai berjatuhan, aku tak sanggup berdiri. Dadaku sesak. Air mata mengalir deras tanpa aku sadari. Aku nenangis tanpa mampu bersuara. Ada sakit luar biasa yang tak bisa aku definisikan namanya. 
Kejutan ini tak pernah aku duga. 
Tuhan.. tolong aku..
Dan duniapun terasa berputar2. Lalu gelap.

Tamat. 

Rabu, 20 September 2017

Plastik Kemasan Mouza


Dulu.. pertama kali mau produksi Mouza, ketika mau bikin plastik kemasan buat gamis, ternyata cetak minimal 1000pcs. Tp sy nawar2 boleh ga 500? Atau 600?  Ternyata ga boleh. Harus ttp 1000. Boleh aja 500-600, tapi dihargain tetep senilai 1000. 
Lihat dompet. Kurang uangnya. Melas.
Ahh.. sedih.. hiks..

Akhirnya pulang ga jadi beli. Ngumpulin lagi. Ikhtiar lagi, sampai akhirnya minggu berikutnya dengan mengesampingkan kebutuhan lain, alhamdulillah bisa. Langsung aja datang lagi. Meskipun waktu itu ga tau plastik itu akan habis atau engga. 

Itu cerita dulu..
Alhamdulillah.. sekarang kalau pesen plastik Mouza, sudah 20x lipat dari itu. 
Yang membuat saya menikmati dan bersyukur adalah.. ketika saya mengikuti prosesnya setahap demi setahap. Naik turun susah senang segalanya, Masyaallah Nikmaaat pisan. 😍
Alhamdulillah wasyukurillah.. 
Terima kasih ya Allah maha baik..

Semua yang saya kerjakan memang berproses, tidak instan. Penuh perjuangan dan susah payah. Sekarang pun saya masih berjuang. Dalam memperbaiki dan mengembangkan bisnis yang saya miliki. Berjuang untuk terus mempertahankan kualitas produk, berjuang memenuhi permintaan agen, berjuang untuk terus memperbaiki manajemen dan masih banyak lagi.

Semoga Allah selalu memberikan kemudahan dan memberikan kelancaran. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Produk Bank dan Riba



Produk Bank yang tidak mengandung riba:
1. Biaya Transfer antar bank
2. Biaya admin bulanan tabungan
3. Biaya penggunaan ATM beda bank
4. Fee Payroll
5. Sewa Deposit box
6. Fee Pembelian pulsa
7. Fee Pembelian tiket pesawat
8. Fee pembayaran PLN/token listrik
9. Fee pembayaran Telkom
10. Fee pembayaran PDAM
12. Fee pembayaran pajak online
13. Fee dari banyak transaksi e-commerce (sampai pembelian tiket bioskop, TV kabel, dll)
14. Simpanan dana titipan (tanpa bagi hasil/bunga)
15. Ada lagi mau menambahkan?
Akadnya disini adalah penjualan manfaat atau jasa (ijarah/ganti/upah), bank mendapatkan fee dari layanan yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Naaah...
Produk Bank yang mengandung riba:
1. Kartu kredit
2. KPR
3. Kredit Multiguna
4. Kredit Tanpa Agunan (KTA)
5. Leasing kendaraan
6. Asuransi
7. Ada lagi ? 
Akadnya adalah hutang piutang dengan kelebihan bayar (bunga) dan denda keterlambatan, yang jelas-jelas adalah riba yang dilarang sangat tegas oleh agama. 

Agama apa mas?
ISLAM sangat jelas dan Quran dan Hadist:
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah, dan Allah tidak menyukai orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa" 
(Al Baqarah 276)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan TINGGALKAN SISA RIBA (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), MAKA KETAHUILAH, BAHWA ALLAH DAN RASUL-NYA AKAN MEMERANGIMU. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” 
(Al-Baqarah: 278-279)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” 
(HR. Muslim no. 1598) 

KATHOLIK? Saya malah tau dari pembaca di group facebook ini yang mengirim pesan pribadi kesaya: 
Saya seorang Katholik mas, membaca tulisan mas Saptuari tentang riba saya kira hanya di Islam saja, penasaran saya cari di beberapa kitab, ternyata saya menemukan banyak larangan memakan riba di agama saya, ini salah satunya:
Mazmur 15:5 "Siapakah yang tinggal di kemahmu Tuhan dan siapakah yang tinggal di gunungmu yang suci..... yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan RIBA dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya."

#saptuari

Wahai Ibu Pencari Nafkah




Jangan sedih bila engkau terpaksa menjadi tulang punggung.
Jangan marah karena suami tak seideal yang engkau harapkan.
Jangan mengeluh bila akhirnya waktumu banyak tersita untuk bekerja dan mencari nafkah.

Karena rezeki keluarga bukan hanya datang dari suami.
Karena bisa jadi Allah mengirim rezeki anak dan suamimu melalui tanganmu.

In sya Allah apa yang engkau lakukan, menjadi amal saleh luar biasa di mata Allah. Sebagaimana ucapan Rasulullah yang termaktub dalam kitab Hiyatul Auliya,
"Nafkahilah mereka (anak dan suami), sesungguhnya bagimu pahala yang engkau infakkan untuk mereka."

Segala kebaikan nafkah yang engkau berikan, In sya Allah akan mendatangkan balasan yang baik pula.
Ketika suami sudah berusaha memenuhi nafkah namun tetap tak mencukupi kebutuhan keluarga, In sya Allah usaha kita sebagai ibu rumah tangga yang membantu mencari nafkah, menjadi salah satu ikhtiar kita dalam upaya menyelamatkan keluarga.

Melahirkan, menyusui, mengurus rumah, mengurus anak, melayani suami dan juga sekaligus bekerja mencari nafkah, In sya Allah menjadi ladang pahala kita dunia akhirat.
Fighting!! Kuatlah! sabarlah!

Untuk para kalian, para istri sholehah pencari nafkah....
Berbahagialah telah turut berjuang membela keluarga. Apa yang telah kalian nafkahkan untuk keluarga, In sya Allah akan dicatat sebagai amalan yang serupa dengan sedekah tanpa dikurangi sedikitpun.

Dan engkau para suami...
Kami membantu mencari nafkah, bukan berarti sebuah pembenaran untuk suami bermalas-malasan dan lari dari tanggung jawab menafkahi keluarga. Kami para istri, rela ikut banting tulang mencari rezeki, kami rela tidak lagi bisa menghabiskan waktu mempercantik diri atau asyik dengan hobi kami, rela melakukan semua ini demi anak-anak, demi suami, demi keluarga.

#penulissaka
#untukparaagenMouzapembelakeluarga