Jumat, 29 September 2017

Ibu Selalu Takut Merepotkan Anaknya



Kemarin, saya pulang. Sekedar melepas rindu pada mamah dan papah. Sekedar bisa memeluk dan menciumnya yang sebulan sekali belum tentu bisa saya lakukan.

Karena cuma sehari, saya memastikan bahwa kebersamaan ini berkualitas. Saya ajak mamah makan di luar. Menikmati makan di saung yang berdiri di atas kolam.

Niatnya pengen nyenengin mamah. Tapi pas pesen makan, tiap kali lihat menu, mamah bilang.
"Ya Allah, pira kangkung sapiring meni Rp. 15.000."
"Teh tong pesen lauk ah, meni mahal,"
"Kagila-gila teuing goreng tempe 3rebuan?"

Dan ungkapan-ungkapan lain yang menyayangkan harga makanan yang kalau di rumah bisa diperoleh dengan harga yang jauh lebih murah.
Begitulah ibu, padahal bukan mamah yang bayar. Padahal bukan mamah yang masak. Padahal mamah tinggal duduk manis aja dan menikmati hidangan.

Tapi mamah selalu khawatir harga-harga itu menyusahkan anaknya. Mamah akan selalu merasa anaknya membayar terlalu mahal untuk "sekedar" makanan yang bisa dibuatnya sendiri di rumah.

Begitupun kalau kita bawa oleh-oleh pulang,
"Kalau mau pulang, pulang aja, tong cacandakan sagala teuing,"
Padahal kalau mamah yg berkunjung, segala-gala dibawa. 😀
Atau ketika saya kasih gamis, malah  maksa bayar.
Atau kalau dikasih uang pasti nanya dulu, tetehnya ada nggak, cukup nggak, suka nggak mau dan malah nyuruh ditabungin.
Dan kalau saya telepon berjam-jam nanti akan bilang, "teteh tos heula atuh bilih seep pulsana,"

Dan saya tak bisa apa-apa selain berkata, "mah, jangan protes. Tolong kasih kesempatan teteh nyenengin mamah,"

Dan yang belum kesampaian saat ini adalah  umroh bareng mamah. semoga urusan pasportnya cpt selesai. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Adakah ibunya yang seperti mamaku? 😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar