Senin, 25 September 2017

Kasih Tak Sampai



Oleh Dinii Fitriyah
.
Aku duduk sendiri di sudut kamar. Membuka secarik kertas lusuh yang hampir sobek. Kubaca bolak balik, berulang ulang.. ada yang menggenang di sudut mata, hampir jatuh.. kutarik nafas dalam2 mencoba bertahan.

Puluhan tahun berlalu.. meski kadang terlupakan karena kesibukan, semua peristiwa itu tak pernah luput dari kenangan
"Aku minta maaf," katamu waktu itu. Kalimat terakhir yang singkat namun berat, yang kudengar lirih dari mulutmu.

Kemudian kau pergi, berlalu dari hadapanku. Pertemuan terakhir kita yang tak pernah aku harapkan. Yang kemudian tak kusangka menjadi kesempatan terakhir aku melihatmu.
"Aku janji, apapun yang terjadi, aku akan tetap mengirimmu surat. Takdir kita, biar Tuhan yang menentukan, mungkin suatu saat aku akan kembali," bisikmu kemudian."
Lalu kau ambil kunci motor, menstater cepat dan berlalu dari pandanganku tanpa menoleh lagi. Aku tau tak ada air mata di sana, tapi ada hati yang tersayat menyaksikanmu pergi dengan luka yang dalam.
.
Waktupun berlalu. Bulan demi bulan terlewati. Suratmu tak pernah datang. Aku tak bertanya mengapa. Juga tak ingin tahu apa sebabnya. Hanya aku kadang rindu mengingat kenangan ketika pertama bertemu saat aku berseragam putih biru. Aku kira itu pertemuan biasa saja. Hanya tentang seorang anak SMP yang bukunya tertinggal diangkot dan kebetulan kau yang menemukannya. 

Lalu tak sengaja terjadi pertemuan beberapa tahun kemudian, ketika kau lihat aku berdiri di sudut jalan menunggu angkot yang tak kunjung lewat. Tujuanku masih jauh. Kota ini tak begitu kukenal. Hanya demi sepupuku aku rela berpanas2an naik bis dan angkot sejauh ini. 
"Ini udah sore, ga baik di sini sendirian, yuk kuantar," katamu ramah.
Itulah kali pertama kita bicara panjang lebar selama perjalanan. Dan aku senang kau mengenalkanku pada ibumu. 

Kami tinggal di tempat yang berjauhan, tapi bisa tak sengaja bertemu 2x di tempat yang berbeda. Pastinya bukan sekedar kebetulan. 

Takdir membawa kita pada pertemuan2 berikutnya. Kadang hanya bertukar buku atau diskusi tentang Dos, WS dan bertukar disket. Sesekali makan somay atau baso di pinggir jalan. Tak ada yang istimewa. Tapi aku mulai merasa bermakna dalam. Aku mulai sering berharap, ada pertemuan kebetulan lagi, dan lagi.

Sampai akhirnya kau datang untuk pertama kalinya ke rumah. Dan aku tau, ada pandangan tak suka saat pertama kali bertemu bapak.

"Bapak tidak suka pada laki2 itu," kata bapak suatu hari saat aku menyiapkan makan malamnya.

Sejak itu, aku tau, ada rentang jurang yang membentang antara kita. Yang rasanya tak mungkin kita sebrangi.

Sampai akhirnya kaupun pergi. Kemudian tanpa kabar. Suratmu tak pernah datang. Bahkan aku tak pernah tau kau dimana dan bagaimana setelah selesai kuliahmu.

Aku pegang janjimu. Aku selalu menunggu suratmu. Meski tak berani berharap kau akan kembali.

Sampai akhirnya kesempatan itu datang. 
"Kalau kamu sudah yakin, bapak tak bisa menahan. Cari dia dan ajak menemui bapak lagi,"

Taukah kamu bagaimana perasaan saat itu? Ada kebahagiaan luar biasa membuncah melimpah ruah saat mendengar kalimat itu dari mulut bapak. Tak sabar rasanya menunggu esok pagi tiba. 
Hampir setahun aku tak mendengar kabarmu. Mungkin rasa kecewa dan sakitmu terlalu dalam. Saat menyadari bahwa takdir tak bisa menyatukan kita. 
Tapi tidak.
Besok aku datang. Aku akan melompat2 kegirangan di hadapanmu dan berkata, "bapak merestui kita,"
Membayangkan wajahmu sumringah, rasanya membuat malam begitu lambat berlalu.

Ahh rasanya aku tidak sabar lagi menunggu matahari terbit. Jam dinding di tembok kamarku terasa begitu pelan berdetik.
*
Akhirnya takdir membawaku ke sini lagi. Tapi bukan lagi mau menemui sepupuku yang sudah pindah. Tapi ada yang lebih istimewa daripada itu.

Kutarik nafas dalam2. Bergetar rasa dihati membayangkan pertemuan yang akan terjadi sebentar lagi. Membayangkan kejutan yang akan dia terima dengan kedatanganku. Ahh, andai saja waktu itu sudah ada telepon genggam, mungkin aku tak perlu repot2 begini. Jikapun ada, tak semua orang bisa memilikinya. Apalagi untukku yang semester 2 aja baru dimulai. Belum lagi sinyal yang juga tak semudah sekarang.

Dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirku, kulangkahkan kaki dengan pasti ke alamat yang sudah tak asing lagi. 

Jalan di desa ini belum banyak yang berubah. Masih sepi, berkerikil dan rumah2 berjauhan. Sunyi. Tapi aku suka. Bukan karena ada yang istimewa di sini. Tapi aku merasakan ketenangan saat jauh dari keramaian.

*
Rumahnya sudah dekat. Warung milik ibumu sudah nampak di kejauhan. Tergesa aku berjalan. Tak sabar bisa tiba di rumahmu lebih cepat lagi.
Kulihat ibumu juga sedang memandang ke arahku. Aku tersenyum dan sedikit berlari.
Tapi, ini di luat perkiraanku. Sampai tiba di depan rumahmu, di hadapan ibumu. Ibu tak segembira yang aku kira. Kufikir ibu akan senang bertemu denganku. Tapi tidak. Ia diam. Tak menyapaku. Tak memelukku. Bahkan tak tersenyum. Hanya memandangku nanar.

Dalam heran kuberanikan diri bertanya.
"Ibu, sehat?" Kataku sambil meraih tangannya.
Ibu mengangguk ngangguk sambil menyodorkan tangannya. Ibu tetap tak bicara. Bahkan tetap tak tersenyum.
"Ibu apa kabar? Lama tidak bertemu, ibu kurusan," selorohku bercanda memancing pembicaraan. Berusaha mencairkan suasana.

Tiba2 ibu menggenggam tanganku erat. Memelukku sampai nafasku sesak. Lama. Sesekali terdengar isak.
Aku tak mengerti.
"Ibu menangis? Kenapa?" Kataku berusaha melepaskan pelukan. 
Tapi ibu malah mengencangkan pelukan dan tangisnya pun pecah. 
Masih dalam heran, ibu mengajakku duduk di rumahnya. Ia mengusap air mata. Menyuruhku duduk dan menunggu sementara ia ambilkan air putih.

"Sama siapa ke sini, nak?"
"Sendirian bu," jawabku senyum.
"Ohh, ibu senang kamu datang," katanya sambil tetap tersenyum.

Ibu sibuk membukakan toples kue. Aku memandangi sekeliling. Di kiri kanan tembok rumah sederhana ini, terpampang banyak fotomu, dari mulai kau pake baju seragam SD hingga menggunakan toga kebanggaanmu. 

"Aku sudah bekerja, alhamdulillah diterima di PLN," katamu dulu. Dan aku senang sekali mendengarnya. Persis dengan cita2mu. 
"Selamat ya pak insinyur," kataku berkelakar.
Ahh, tak sabar rasanya kita bertemu. Kita akan bersama merencanakan banyak hal, berdua berjuang meraih banyak mimpi. Kita pasti bahagia, mas. Bisikku dalam hati.

Dan sekarang, aku di sini. Di rumahmu. Sebentar lagi bertemu.

"Mas kemana bu? Kok aku ga lihat?" Kataku memberanikan diri bertanya. Menyadari tujuan utamaku datang ke sini.

Ibu terdiam. Menarik nafas dalam2. Seolah ada beban berat yang menghimpitnya.

Ibu berdiri. Memegang tanganku. "Yuk kita ke sana," katanya.
"Kemana bu?"
"Menemui masmu," senyumnya nampak dipaksakan.
Aku manut, mengikuti tarikan tangan ibu yang terasa lembut. 
Ah mas, membayangkan hidup denganmu, dengan ibu selembut ini, rasanya sempurna sudah hidupku

Kami berjalan lebih dari 500m. Melewati jalan kecil, kebun2 dan bunga di kiri kanan  jalan. Entah ibu mau membawaku kemana. Sepanjang jalan sesekali aku becanda. Meski lebih banyak kaku dan tak bisa membuat ibu tertawa. Aku lihat ada mendung di sana. Ada duka yang tak bisa kufahami namun tersimpan ketegaran.

"Mau kemana bu? Mas dimana? Masih jauh?" Kataku tak sabar.
"Sebentar lagi," jawab ibu.

Sampai akhirnya  ibu menghentikan langkahnya yang kemudian diikuti berhentinya langkahku.

"Kuburan? Makam? Mau apa kita ke sini bu?" Perasaanku mulai tak enak saat menyadari kami berada dimana.

Ibu menarik lagi tanganku. Hingga tiba di salah satu nisan yang penuh bunga2 putih dan terawat rapi.

Aku tercekat. Tak mampu berkata2. Tiba2 terasa kepalaku berat. Seolah ada ribuan ton beban yang menghimpitku seketika. Dunia terasa berputar putar kencang. Lututku goyah. Seluruh sendiku tak bertenaga. Aku terduduk di tanah merah. Memegang batu nisan. 
Disana tertulis namamu.

"Anak ibu satu2nya, meninggal satu tahun yang lalu. Ia kecelakaan. Motor yang dikendarainya tabrakan dengan mobil, sepulang dari menemuimu untuk terakhir kalinya. Meninggal sehari setelah kejadian. Dan ia sempat berpesan, jangan pernah memberitahu kabar ini padamu, nak,"
Suara ibu terdengar samar. bergetar. 
Tiba berkelebatan dalam ingatanku. Pertemuan terakhir itu. Janji itu. Mimpi2 itu. Restu bapak.
Kini aku menemukan jawabannya, kenapa suratmu tak pernah datang. 

Hujan mulai berjatuhan, aku tak sanggup berdiri. Dadaku sesak. Air mata mengalir deras tanpa aku sadari. Aku nenangis tanpa mampu bersuara. Ada sakit luar biasa yang tak bisa aku definisikan namanya. 
Kejutan ini tak pernah aku duga. 
Tuhan.. tolong aku..
Dan duniapun terasa berputar2. Lalu gelap.

Tamat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar