Selasa, 10 Oktober 2017

Suami Sebagai Partner Bisnis

"Teh, kalau suami teteh tugasnya apa aja di Mouza? kayaknya kebanyakan teteh ya yang sibuk, teteh yang dominan,"

Sebenarnya saya kurang suka pertanyaan itu. Tapi bagaimanapun juga tetap harus saya jawab.

Jadi begini, ketika saya mulai merintis Mouza, sayalah yang meminta suami untuk nggak kerja di luar. Sayalah yang melarang suami ketika dulu dapat tawaran kerja yang bagus.

Kenapa?
Karena, saya yang meminta dukungannya untuk support Mouza, untuk bersama-sama membesarkan Mouza. 
Saya lebih membutuhkannya. Saya lebih bebas pergi kemana-mana dengan suami, saya bisa belajar dan diskusi tanpa batas dengan suami. Maka, saya yang meminta suami untuk rela mendampingi istrinya ini kemana-mana, bahkan sesekali kita belajar bareng, workshop bareng, training bareng.

Kenapa saya nampak lebih dominan? Karena Mouza produknya identik dengan perempuan, saya yg design, saya yang punya feeling tentang kain yang disukai perempuan, dan saya pulalah yang membrandingnya dan lainnya. Coba kalau produknya baju koko? mungkin pak Ade yang muncul :D.

Padahal aslinya, di belakang, tanpa suami, saya bukanlah siapa-siapa, tanpa support dan doanya, saya tak ada apa-apa. 
Suamilah yang sigap handle anak-anak ketika pagi-pagi saya uring-uringan kalau mau Launching :D
Suamilah yang selalu menyediakan bahunya dan membiarkannya saya bersandar kala saya lelah.
Suami pulalah yang mengerem keinginan saya belanja ini itu dan menjadi manager keuangan saya kala saya boros. 
Suami pulalah yang memberi semangat tanpa henti ketika masalah demi masalah, tantangan demi tantangan datang dan saya harus berdiri tegap menghadapinya.
-- ahh, terima kasih ayah ---

Apa yang saya kerjakan, apa yang suami saya kerjakan. Sudah sesuai porsinya. Kami sepaket, saling melengkapi, tak ada yang mendominasi, tak ada yang paling. Di rumah, kami tak peduli mana yang seharusnya pekerjaan suami, mana yang pekerjaan istri. Selagi bisa, kami kerjakan. 
Hari ini bisa jadi saya masak, suami nyuci mobil, besoknya bisa jadi suami yang mandiin anak-anak, saya nyuci motor.  
--seperti pagi tadi, dia buatkan nasgor yang selalu jadi rebutan anak-anak :D --

Saya tak pernah menganggap saya sebagai pencari nafkah. Tetap ditangan suami lah keputusan terbesar berada. Kami hanya meyakini, bagaimanapun caranya, melalui istri maupun suami, intinya adalah sama, rezeki yang kami terima, adalah rezeki keluarga.
Tanpamu, aku hanya butiran debu --halah- :P

Jadi, kami tak pernah merasa paling, paling sibuk, paling rajin, dan lainnya. Tapi kami saling, saling membantu, saling melengkapi, saling mengingatkan.
   
Lope lope ayah Ade Indrianto. :-*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar