Kamis, 30 November 2017

Hikmah Kehilangan

Saat itu Kean, baru berusia 40 hari setelah saya lahirkan. Kean meninggal dalam pelukan, menghembuskan nafas terakhirnya tepat di depan mata saya. Hampir 7 tahun yang lalu, adalah titik nadir hidup saya. Selama 4 bulan saya mengurung diri. Menjauh dari kehidupan sosial. Saya juga tidak mau bertemu siapapun.

Saya kehilangan berat badan sampai 20kg. Butuh waktu 4 bulan untuk bisa bangkit kembali seperti semula. Tidak mudah. Berat. Amat berat. Itulah masa dimana saya menganggap kejadian paling berat dalam hidup saya.

1 bulan kemudian, saya kehilangan motor yang baru 2 hari saya lunasi. Ketika tau, saya hanya tertawa, dan tidak berusaha mencarinya. Saya hanya lapor polisi seperlunya saja. Di hari kedua setelah kejadian, saya juga tidak membahasnya lagi dengan suami. Terasa ringan.

Setelah itu, saya mengalami banyak kejadian yang mungkin disebut dengan musibah, teguran atau ujian dari Allah. Saya kehilangan mobil, kerugian usaha ratusan juta, kehilangan harta senilai milyaran, dan melepas satu demi satu harta yang terkait lising. Akhirnya sekarang saya bersyukur, karena dengan cara itulah Allah membebaskan saya dari riba.

Dimasa-masa itu hidup saya dan anak-anak  tidaklah mudah, biasanya kami tidur di kamar besar, ber-AC, dan kasur empuk. Tapi kini harus tinggal di kamar kosan berlima yang cukup beralaskan karpet saja. Makan seadanya. Kemana pun pergi hanya naik motor, bahkan jika terpaksa naik motor butut berlima, kepanasan, dan kehujanan.

Saya tidak pernah mengeluh dan tidak pernah saya ceritakan ke Facebook, bahkan teman dekat sekalipun tidak banyak yang tahu. Saya anggap ini ringan, masih bisa saya atasi.

Saat itu masih banyak yang bisa saya lakukan. Saya masih bisa tertawa, masih bisa aktif di Facebook, masih bisa belajar, masih bisa bernyanyi ringan di kamar mandi, dan masih bisa berfikir untuk terus melakukan perubahan. Rasanya masih jauh lebih berat ketika saya harus kehilangan Kean.

Semua memang sudah berlalu, tapi kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi besok. Dan ketika itu, saya pasti sudah jauh lebih kuat.

Hikmah untuk saya :
Terkadang Allah memberi kita musibah besar di awal agar kita bisa lebih siap menghadapi musibah-musibah lainnya di belakang. Ketika kita sudah pernah merasakan musibah yang berat, maka musibah lainnya akan terasa lebih ringan.

Bayangkan kalau situasinya dibalik.
Saya kehilangan motor, pasti terasa berat. Kehilangan mobil, akan terasa lebih berat. Saat kehilangan rumah, bisa jadi hampir gila.
Kehilangan toko, bisa jadi setengah waras. Lalu kehilangan Kean, saya bisa gila beneran.

Itulah hidup, selalu ada hikmah yang akan kita ketahui kemudian.