Kamis, 21 Desember 2017

PEMOTRETAN PERDANA MOUZA #3

Alhamdulillah, pemotretan selesai. Kalau dalam bahasa sunda, serasa bucat bisul. Legaaaa.

Eh lega? ternyata belum. Perjuangan masih berlanjut cin. Jadwal Launching 2 hari lagi. Berikutnya saya baru ingat juga, bahwa sebuah foto itu harus diedit. Entah bagaimana caranya.

Akhirnya saya googling katalog-katalog produk brand-brand lain yang terkenal. Saya perhatikan satu per satu. Sampailah pada kesimpulan, Yes, ini wajib diedit.

Foto narsis sehari-hari aja kudu diedit, berbagai aplikasi di HP dipake biar langsing, biar putih, biar mulus. Meskipun dari 50 foto yang bagus cuma 1, ya kan? 😜
Ya moso foto katalog brand kok caludih?

Tapi, saya dan suami cuma bisa bengong, kita berdua nggak bisa ngedit foto. Saya menguasai corel, tapi tidak photoshop. Coba otak atik sendiri sampek malem, nggak ketemu caranya. Begadang sampe pagi itu foto tetep nggak memuaskan lihatnya.

Sampai tak sengaja, baca info di grup TDA, ada pelatihan multimedia, photoshop di Tel U (dulu STT Telkom). Akhirnya dengan penuh restu istri, si ayah ikut pelatihan photoshop seharian.

Sampai di titik ini saya cukup tenang, "Alhamdulillah Allah kasih jalan keluar, semoga pulang si ayah bawa ilmu dan bisa langsung dipraktekan," kataku senyum lega.

Menjelang magrib, suami baru pulang dari pelatihan. Dengan sumringah saya menyambutnya di depan pintu. "Asyiikkk ayah udah pulang, istirahat dl ya, abis isya kita mulai ngedit lagi," kebayang kan gimana senengnya saya. 😀

Sepulang dari mesjid, masih belum buka sarung, saya langsung nodong, "Yuk yah kita mulai kerjain, lusa udah mau launching nih,"

"Bentar," katanya sambil melempar sarung dan ambil laptop. Gak lupa saya siapin teh manis buat nyogok biar semangat.😀
Ahhh pokoknya mah saat itu teh saya merasa mantep banget lihat suami udah mau ngedit foto.

Pas baru 1 foto, saya mulai mengarahkan harus begini. Tapi pas sampe tahap...

"Yah, ini putihin wajah sama tangan Uvi, kmrn kan kita pake kamera biasa, dia jg ga pake make up, jd kurang cerah dan kurang kontras,"

"Yang diputihin wajah sama tangannya aja??"

"Iya, bajunya mah udah pas, warnanya udah sesuai,"

Tiba2 si ayah diem. Mandangin saya sambil bengong,
"Mmm...Kemaren waktu pelatihan, nggak diajarin gitu mah," katanya mringis.
#tepok jidat.

Lemess lagi. Pelatihan kmrn cuma PHP in saya.😀
Duh gimana ini, udah nggak ada waktu lagi, sedangkan besok jam 9 sudah harus launcing.

Kesel, marah, putus asa. Apalagi kalau lihat brand-brand lain bagus-bagus banget fotonya. Waktu tanya-tanya ke temen yang bisnis editing, 1 foto 50-100rb, woww!! nyerah 😀

Beli cilok aja ga bisa, berani2nya bayar org buat ngedit.😃

Akhirnya saya ambil laptop, buka correl, saya edit sendiri. Nggak ada pilihan, akhirnya itu foto saya BRIGHTNESS. Tau kan artinya? saya cerahin, yang berarti wajah Uvi jadi putih, warna pohon juga lebih putih, pokoknya semua yang ada di foto ikut cerah.😁

Ya sudahlah. dengan tak puas saya nekat. waktu itu sudah pukul 2 malam, jam 5 saya bangun lagi buat flyer-flyer launching, buat foto sampul, dll.

Dan jam 9 teng, sy tlp mamah, tlp kakak, telepon Uvi minta doa. Dengan Bismillah, akhirnya Launching juga di Instagram (waktu itu followernya baru 3rb).

Alhamdulillah, tak sia-sia, hari pertama launching, gamis Mouza terjual 204pcs!! Pagi-pagi rekening kosong, dompet kosong, pas malam cuma bisa bengong lihat jumlah angka di rekening. Cuma 8 digit sih. Tp buat saya waktu itu, Masyaallah. Amazing!

Dan hari itu, saking hecticnya, saya cuma mandi sekali pas mau tidur.😀
Terobatilah sudah segala kelelahan jiwa dan raga selama ini. #lebay

Pagi-pagi nggak bisa sarapan karena seluruh energi lahir batin dan dompet terkuras. Bahkan jam 10 pagi si kakak minta jajan aja nggak bisa karena nggak ada uang, Alhamdulillah malamnya bisa makan pesta nasi padang.😀😀

-- Selesai --

PEMOTRETAN PERDANA MOUZA #2


Sebelum mulai pemotretan, sholat dzuhur, saya nyuksruk bari ceurik di atas sajadah, "Ya Allah mudahkanlah urusan kami," dan aku mencium tangan suami, menggenggam tangannya berharap berbagi kekuatan.

Nggak pake makan siang dulu pemotretan segera dimulai. Mudah-mudahan somay td bisa membuat lapar delay datang.

"Uvi, nanti salinnya di mobil aja ya," kata saya sambil menjelaskan, bahwa ini seadanya, baru belajar dan berharap Uvi memaklumi.

"Iya teh" jawabnya sambil menerima baju yang mau difoto.

"Teh, make up nya mana?" katanya lagi.
Saya menoleh kanget, "Make up??"

"Iya, pake make up kan?" kata Uvi heran lihat saya bengong.

"Mmmm... teteh ga punya make up Uvi,"

"Waduh, gimana dong teh. Bedak sama eye liner aja deh,"

"Teteh nggak punya bedak, apalagi eyeliner," jawab saya lemes, hiks.. (eyeliner itu apa aja waktu itu saya nggak tau, #tutupmuka)

"Ya udah lipstik aja deh, teh,"

"Nggak punya juga, neng, teteh nggak suka pake lipstik," waktu itu rasanya pengen nangis, kok saya sampek nggak inget kalau ini butuh make up. Kok saya perempuan sampe nggak punya bedak nggak punya lipstik??

Akhirnya saya bongkar-bongkar koper tempat bajunya, siapa tau menemukan sesuatu. Dan.. Ahaaaa! saya menemukan alas bedak merk Rev*on. Saya ingat, alas bedak ini dipake waktu Neng Intan wisuda kelulusan SMA. Berarti sudah 2 tahun yang lalu, mbuh kadaluarsa po ora, haha.

Akhirnya bismillah dipakelah alas bedak itu, cuma bisa berdoa mudah-mudahan nggak apa-apa, saya nggak sanggup kalau harus ganti biaya ke dokter gara-gara pemakaian alas bedak yang kadaluarsa, haha.

Fix, akhirnya cm pake alas bedak dan lipgos punya neng Uvi sendiri. Photografernya Pak Ade sendiri yang waktu itu pertama kali juga pegang kamera DSLR.😜

Singkat cerita, akhirnya jeprat jepret sana sini, sibuk sana sini, sampe nggak nyadar bahwa saya berdiri deket dr. Oz yang lagi syuting. Sempet nyapa. Tp ah nggak peduli, saya fokus arahin Yuvi. Boro2 inget mau foto sama artis. Dan memang saya suka malu dan merasa gimanaaa gitu kalo minta2 foto sama artis tuh. Boro-boro inget foto artis bisa buat branding, hihi. Makanya agak sedih pas tau beliau meninggal.

Eh Bahkan sampe nggak nyadar anak-anak basah-basahan main di taman air yang ada di situ.😜

Jam 3an Mas Ade sempet pamit jemput Andien dulu di sekolah, jabatan photografer pun pindah ke saya, lokasi pindah ke Taman Lansia. Sok ala-ala profesional saya kebanyakan gaya fotoin neng Uvi, wkwkwkwk. Kl temen2 liat palingan kalo nggak ngakak jengkang ya muntah sampe kejang-kejang, haha.

Menjelang magrib, selesailah pemotretan, yang hasilnya mbuh jiga naon, wkwkwk. Bismillah aja, namanya juga belajar bin ikhtiar.

Lelahnya luar biasa. Berasa abis tandur di sawah.

Kruukk kruukk, jelas banget kedengeran perut memanggil.😀
Akhirnya, karena saya ingat berapa uang di dompet, saya pilih-pilih tempat buat ngajak neng Uvi makan. Suguhan Mie Insyaallah mudah-mudahan membuat kenyang.

Selesailah acara pemotretan. Kami pun mengantar kembali Uvi ke depan kampus. Soal bayaran? duuhhh

"Teteh nggak usah, difoto aja Uvi udah seneng, Uvi emang seneng difoto," kata perempuan baik hati yang baru nikah ini.

Saya ga sampe hati, akhirnya menyelipkan amplop dengan nilai paspasan sesuai isi dompet dikurangi biaya makan tadi.😜

"Yang ikhlas ya neng, doakan Mouza bisa besar," kataku pelan dan mencium pipinya.

"Aamiin, pasti teh, Uvi doakan biar nnti Uvi difoto lagi," jawabnya tulus.

--Bersambung--

PEMOTRETAN PERDANA MOUZA #1


26 Januari 2016.

Setelah sadar bahwa seseproduk itu butuh foto dan model. Saya meminjam kamera salah seorang teman, dan menyewa lensa 150rb, saya dan suami merencanakan pemotretan perdana Mouza. Waktu itu Berat badan masih 56 dan pipi belum tumpah.😀

Jadi direncanakan foto dengan model diri sendiri, dipede-pedein meskipun aslinya enggak, suami juga muji meskipun mungkin dalam hatinya enek, haha.

Tapi ternyata, saya yang tidak biasa. Saya menyerah dan nggak mau jadi model. Nggak pede. Acara pemotretan pun gagal total.
Tapi kami nggak menyerah. Apalagi sudah woro-woro di medsos bahwa Mouza akan launching perdana 1 Februari 2016. Tidak ada waktu lagi.

Sempat datang ke beberapa studio. Tp sungguh, saya tak sanggup membayar meskipun tak sampai 150rb/ baju. Waktu itu Mouza perdana ada 8 warna pilihan.

Jam 10, saya memberanikan diri menelpon adik Intan Aulia yang kuliah di UIN Bandung.

"Neng, punya temen cantik dan tinggi ga buat model?"

"Model apa?"

"Model baju, teteh bikin baju, butuh model. Gpp bukan model beneran, yang penting bagus dan bisa diarahkan,"

"Duh siapa ya, nggak ada teh, temen neng biasa-biasa aja,"

"Please neng, bantuin teteh,"

"Iiihh, neng lagi kuliah iniihhh, udah ya,"
tut tut tut, HP ditutup.

Lunglai, bingung, sedangkan argo sewa lensa berjalan. kalau ga selesai hari ini, berarti akan keluar uang sewa lagi.

Dengan nekat, saya akhirnya datang ke kampus neng. Sampe kampus lalu nelp lagi.

"Neng, gimana? ada nggak modelnya? teteh di depan kampus ini,"

"Hah?? iihhh gelooo neng lagi kuliah ini sistaahh," katanya sedikit kesal.

"Neng, bantuin teteh pliiiissss,"

"Mmm.. bentar atuh ya," lalu putri bungsu cantik ini menutup telepon dengan suara kesal.
Sayapun menunggu.

Kriik kriik kriik.
Waktu berjalan bagai keong. Jam tangan berasa rusak. 5 menit, 10 menit nggak ada kabar. Ya sudah menyerah. Sudah hampir mobil putar balik, tiba-tiba HP bunyi.

"Teh, itu nanti temen neng ke depan ya, Yuvi namanya, neng nggak bisa nganter, masih kuliah,"

Aaahh legaaa dengernya. Akhirnya beli gorengan, beli es kelapa sambil nungguin si neng calon model. Kipas-kipas lega di mobil yang ACnya ga dingin itu.😀

Lagi-lagi, si calon model lama banget nongolnya. Gorengan udah habis, somay tinggal sesuap, es kelapa udah ganti teh botol. Devan Danish mulai rewel. Kl ini ga jadi, lensa harus segera dikembalikan dan entah kapan bisa pinjem lg. Karena duit di dompet cm ada 200rb.

Si ayah mulai menstater mobil, mau pulang.
Tiba-tiba ada seorang perempuan lari-lari.

"Teh Dinii ya, saya Yuvi temennya Intan, katanya teteh perlu buat model,"

OMG, saya mengangguk bengong. Dalam hati, duhhh, bisa nggak ya ini jd model? Waktu itu tampak di mata saya, item, kucel (namanya abis kuliah dan lari2 kali ya,pandangan pertama kurang berkesan, haha. maaf ya neng Uvi😀)

Tapi saya ga ada pilihan, ini sudah dzuhur, sewa lensa udah jalan. Akhirnya berenam berangkatlah tanpa tujuan. Iya, tanpa tujuan karena nggak tau mau difoto dimana, haha.
Waktu itu saya belum sebulan jd warga Bandung. Nggak tau apa-apa tentang Bandung. Akhirnya memberanikan diri nanya ke Yuvi.

"Neng, kita fotonya dimana ya, daerah mana di Bandung yang pemandangannya bagus?" kata saya penuh harap.

Dan Yuvi senyum-senyum menjawab, "Yuvi juga nggak tau teh, kan Uvi orang Garut," 😜

Akhirnya kita jalan aja nggak tau kemana, lirik kiri kanan siapa tau nemu pemandangan bagus. Sampai akhirnya lewat ke Taman Balaikota. Saat macet, saya perhatikan, "Ih kayaknya bagus juga di sini," kataku dalam hati.

Akhirnya diputuskanlah di taman Balaikota.

-- Bersambung --