Kamis, 21 Desember 2017

PEMOTRETAN PERDANA MOUZA #1


26 Januari 2016.

Setelah sadar bahwa seseproduk itu butuh foto dan model. Saya meminjam kamera salah seorang teman, dan menyewa lensa 150rb, saya dan suami merencanakan pemotretan perdana Mouza. Waktu itu Berat badan masih 56 dan pipi belum tumpah.😀

Jadi direncanakan foto dengan model diri sendiri, dipede-pedein meskipun aslinya enggak, suami juga muji meskipun mungkin dalam hatinya enek, haha.

Tapi ternyata, saya yang tidak biasa. Saya menyerah dan nggak mau jadi model. Nggak pede. Acara pemotretan pun gagal total.
Tapi kami nggak menyerah. Apalagi sudah woro-woro di medsos bahwa Mouza akan launching perdana 1 Februari 2016. Tidak ada waktu lagi.

Sempat datang ke beberapa studio. Tp sungguh, saya tak sanggup membayar meskipun tak sampai 150rb/ baju. Waktu itu Mouza perdana ada 8 warna pilihan.

Jam 10, saya memberanikan diri menelpon adik Intan Aulia yang kuliah di UIN Bandung.

"Neng, punya temen cantik dan tinggi ga buat model?"

"Model apa?"

"Model baju, teteh bikin baju, butuh model. Gpp bukan model beneran, yang penting bagus dan bisa diarahkan,"

"Duh siapa ya, nggak ada teh, temen neng biasa-biasa aja,"

"Please neng, bantuin teteh,"

"Iiihh, neng lagi kuliah iniihhh, udah ya,"
tut tut tut, HP ditutup.

Lunglai, bingung, sedangkan argo sewa lensa berjalan. kalau ga selesai hari ini, berarti akan keluar uang sewa lagi.

Dengan nekat, saya akhirnya datang ke kampus neng. Sampe kampus lalu nelp lagi.

"Neng, gimana? ada nggak modelnya? teteh di depan kampus ini,"

"Hah?? iihhh gelooo neng lagi kuliah ini sistaahh," katanya sedikit kesal.

"Neng, bantuin teteh pliiiissss,"

"Mmm.. bentar atuh ya," lalu putri bungsu cantik ini menutup telepon dengan suara kesal.
Sayapun menunggu.

Kriik kriik kriik.
Waktu berjalan bagai keong. Jam tangan berasa rusak. 5 menit, 10 menit nggak ada kabar. Ya sudah menyerah. Sudah hampir mobil putar balik, tiba-tiba HP bunyi.

"Teh, itu nanti temen neng ke depan ya, Yuvi namanya, neng nggak bisa nganter, masih kuliah,"

Aaahh legaaa dengernya. Akhirnya beli gorengan, beli es kelapa sambil nungguin si neng calon model. Kipas-kipas lega di mobil yang ACnya ga dingin itu.😀

Lagi-lagi, si calon model lama banget nongolnya. Gorengan udah habis, somay tinggal sesuap, es kelapa udah ganti teh botol. Devan Danish mulai rewel. Kl ini ga jadi, lensa harus segera dikembalikan dan entah kapan bisa pinjem lg. Karena duit di dompet cm ada 200rb.

Si ayah mulai menstater mobil, mau pulang.
Tiba-tiba ada seorang perempuan lari-lari.

"Teh Dinii ya, saya Yuvi temennya Intan, katanya teteh perlu buat model,"

OMG, saya mengangguk bengong. Dalam hati, duhhh, bisa nggak ya ini jd model? Waktu itu tampak di mata saya, item, kucel (namanya abis kuliah dan lari2 kali ya,pandangan pertama kurang berkesan, haha. maaf ya neng Uvi😀)

Tapi saya ga ada pilihan, ini sudah dzuhur, sewa lensa udah jalan. Akhirnya berenam berangkatlah tanpa tujuan. Iya, tanpa tujuan karena nggak tau mau difoto dimana, haha.
Waktu itu saya belum sebulan jd warga Bandung. Nggak tau apa-apa tentang Bandung. Akhirnya memberanikan diri nanya ke Yuvi.

"Neng, kita fotonya dimana ya, daerah mana di Bandung yang pemandangannya bagus?" kata saya penuh harap.

Dan Yuvi senyum-senyum menjawab, "Yuvi juga nggak tau teh, kan Uvi orang Garut," 😜

Akhirnya kita jalan aja nggak tau kemana, lirik kiri kanan siapa tau nemu pemandangan bagus. Sampai akhirnya lewat ke Taman Balaikota. Saat macet, saya perhatikan, "Ih kayaknya bagus juga di sini," kataku dalam hati.

Akhirnya diputuskanlah di taman Balaikota.

-- Bersambung --

Tidak ada komentar: