Senin, 15 Januari 2018

HIJRAH 1


1 Januari 2016. Disaat orang-orang berpesta kembang api, terompet dan keriuhan euforia malam tahun baru, saya sekeluarga datang menginjakkan kaki di Bandung, di kontrakan yang disewa dengan biaya 1jt/bulan. Hijrah meninggalkan segalanya, dengan harapan merubah segalanya. Menyambut tahun baru dengan asa baru.

Malam itu, diantara bisingnya suara terompet, kami membuka pintu kontrakan dengan bismillah. Lalu masuk dan memandang nanar sekeliling ruangan dimana dapur, ruang tengah dan kamar bisa tersapu sekaligus dalam sekali pandang. Semua mata penuh binar, suami, anak-anak, kami saling pandang dan seolah-olah pandangan itu berkata, "Semoga di sini, di Bandung kami menemukan harapan hidup baru dan berkesempatan memperbaiki hidup di masa lalu".

Tak ada yang istimewa malam itu, karena kelelahan setelah 7jam perjalanan yang  super macet, semua langsung mengambil posisi tidur. Dengan karpet terlentang kami baris untuk tidur, bersiap menyulam mimpi mengadu nasib di Bandung. Tak peduli dengan suara terompet semakin bising dan kembang api yang menyala-nyala di langit malam. Dua lembar Bed Cover digelar diatas karpet dengan harapan sedikit bisa mengusir dingin yang menusuk. Sungguh berbeda dengan cuaca kota kami sebelumnya. Indramayu. 
Alhamdulillah, anak-anak tidak rewel meski tidak tidur di kasur. 

Esoknya, saya menata dapur, membereskan perlengkapan yang kami bawa. Ada gelas dan piring masing2 5pcs, kompor gas, galon, ember, setrika, TV, dan salin alakadarnya yang saya simpan di dalam kardus.

Oh, begini rasanya hidup di Bandung. Kontrak di daerah atas membuat cuaca cukup dingin kalau malam. Saya suka. cahaya di kota Bandung nampak jelas terlihat dari daerah Jatihandap, tempat kontrakan tadi.

Bangun, sholat, sarapan, anter kakak sekolah, lalu duduk di depan laptop mencari sesuatu. Entah apa yang saya cari waktu itu. Sore menjelang, menemani anak2 ngaji, belajar, browsing sampai malam, lalu tidur lagi berselimut dingin. Begitu terus setiap hari. Entah keberanian macam apa yang membuat kami nekat pindah ke Bandung tanpa tujuan yang jelas. Pengangguran.

Seminggu kemudian, saat saya mulai menikmati helaan nafas pagi di kota Bandung, saat saya mulai membangun semangat merajut mimpi, pagi terbangun, tiba-tiba dunia terasa oleng. Jungkir balik dalam seketika. Saya tak mampu berdiri. Limbung. Dan ketika saya mencoba membuka mata, tiba-tiba muntah dengan mual yang sangat. Selanjutnya saya tak bisa merasakan bagaimana posisi yang nyaman. Duduk, berdiri, tidur, semua terasa gempa bumi. Kenapa ini, sakit apa saya? Apakah karena setiap hari saya tidur di karpet tanpa kasur dan sering kedinginan?

8 Januari 2016, tepat 2tahun yang lalu, untuk pertama kalinya saya tau, bagaimana rasanya... 

V E R T I G O.

-- bersambung --

Tidak ada komentar:

Posting Komentar