Senin, 14 Mei 2018

Film Bunda


Beberapa teman berkata pada saya, "Kisah hidup teh Dinii mirip Film Bunda." Film keren yang sangat menginspirasi hasil karya anak bangsa kang Rendy Saputra.

Foto yang di dekat poster saya ambil bulan April 2018 saat acara bersinergi di UPI Bandung. 
Foto bersama keluarga saya ambil September 2015 saat acara Pestawirausaha, acara kerennya TDA di Taman Mini Indonesia Jakarta.



Saat pertama kali saya mengenal sosok kang Rendy. Saat sama-sama belum mengembang 😜. Dan saat itu saya belum tau mau bisnis apa. Datang ke acara Pestawirausaha dengan status "pengangguran". Nggak punya kerjaan. Nggak punya bisnis apa-apa. Sedang hutang menggunung dimana-mana. Kalo ditanya bisnis apa, yang lain menjawab lantang tentang bisnisnya, saya menggeleng lemah, "baru tutup bisnis" bahasa kerennya bangkrut 😁.

Saya sendiri seperti ngaca lihat film ini. Nggak heran dari awal nonton saya menghabiskan tisu berlembar-lembar. Rasanya film ini benar-benar nyindir saya. Persissss sekali...

Dari mulai cerita bagaimana bisnis dibangun dengan ikhtiar maksimal kerja keras membabi buta. Kalo Keke mulai dr 2 kodi. Maka Mouza mulai dari 3jt. Mulai dari sebuah garasi kecil. 

Pernah juga ngalamin kain hilang (bukan jatuh), saat itu yang belanja adalah suami. Si Toko kain nggak ngaku kurang. Bisa ditebak, saya marah-marah dan ribut hebat. Modal cuma segitu-segitunya. Anak-anak seringkali tak terurus. Jadi seperti terbalik fungsi suami dan istri. Ayah dan ibu.

Lalu saya dan suami melakukan banyak diskusi dan debat panjang untuk menyamakan visi dan misi. Melalui banyak alasan kuat agar diridhoi. Karena aku tau, disanalah letak surgaku.

Lalu endingnya sama. Saya ikut ajang Indonesia Fashion Week (IFW 2018) bukan karena niat sendiri. Saat saya sedang krisis kepercayaan diri, justru datang sahabat yang support tiada habisnya. Saya didaftarkan sekaligus diyakinkan sahabat Kursien Karzai, Pipit Pramudia, Tia Mastia saya untuk mengikuti ajang fashion show Nasional bergengsi di Indonesia. Yang dengan segala upaya saya meyakinkan diri bahwa saya bisa. 

Inget nonton film ini di Pontianak, masih dalam perjalanan sepulang dari bioskop, tiba-tiba saya sekali lagi ingin meminta maaf pada suami. Mungkin seperti itulah saya dulu. Egois. Merasa dominan, merasa saya yg lebih berperan di keluarga. Itu masa jahiliyah di awal-awal hijrah.

Alhamdulillah sekarang sudah bisa jalan beriringan. Sudah menyamakan visi misi, sudah berbagi tugas dan tak lagi ribut soal tanggung jawab. Maka ketika Fenny Ferawati menuliskan kisah kami dibukunya Couplepreneur, itu aslinya tak semudah yang dibayangkan.

Semua butuh proses. Semua akan berubah menjadi lebih baik selama kita mau belajar dan selalu mengambil hikmah dari setiap hal yang kita alami.

Kini, Mouza sudah 2 tahun. Sudah berkembang sampai saat ini. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana prosesnya hingga sampai di titik ini. Biidznillah Allah maha besar.

Semoga kita semua selalu bahagia 😘😘

Tidak ada komentar:

Posting Komentar