Kamis, 28 Juni 2018

Kutemukan Hidayah

Hari pertama Idul Fitri, kumpul di rumah dan ketemu tetangga, ketemu teman masa kecil dan ketemu sodara-sodara dekat sekandung, paman, uwa, bibi-bibi, dll. Seharian, sampe malam mau tidur baru beres. Alhamdulillah berhasil menghindari bersalaman dengan yang bukan mahrom.

Hari kedua. Sudah tradisi ziarah ke makam Mbah (K.H. Abdul Halim) dan berkumpul seluruh keluarga besar di Komplek Ponpes Al-Islah Jatiwangi Majalengka. Yang datang banyak banget diperkirakan lebih dari 500 orang. Sampai bingung yang mana yang sodara mana yang bukan. Tapi pasti lebih banyak sodaranya daripada yang bukan, entah itu sepupu jauh, ipar-ipar, nini gigir, dan segala macam sebutan sodara.

Di sini ternyata lebih sulit lagi. Harus menyalami mereka satu persatu. Ketemu sepupu yang umurnya jauh di atas saya dan lagi kecil suka ngasuh saya. Suka becanda tertawa tiba-tiba saya membatasi diri nggak mau bersentuhan meskipun cuma salaman.

Ini lebaran tahun kedua saya belajar tidak bersalaman dengan yang bukan mahrom. Ternyata tidak mudah. Ketika ketemu yang sangat akrab sodara main kecil, reflek aja bersamalam dan baru nyadar setelahnya. Hiks.

Ini baru silaturahim dengan keluarga dr pihak papah. Hari kelima nanti dari pihak mamah keluarga besar Al-Hikmah Asyatibiyah (K.H. Syatibi Qusyaeri). Yang datang bisa jadi sampe ribuan orang. Mudah-mudahan saya nggak lupa lagi.

Jadi sedih kalo inget dulu, saya adalah satu-satunya anak papah, satu-satunya cucu mbah yang "mantangul". Disaat yang lain udah pake gamis, sepupu-sepupu, adik, kakak pada pake gamis, saya masih pake jeans ketat. Disaat yg lain hobi baca Quran, saya malah hobi naik gunung.😢

Saya sungguh lambat menemukan hidayah dari Allah. Semoga tidak terlambat untuk terus memperbaiki diri.

Ramadhan di Moscow


Masih berasa mimpi saya pernah menginjakkan kaki dan berpetualang mengenal sedikit kehidupan di sana sebelum Ramadhan kemarin.

Kota yang indah dan bersih sepanjang mata memandang yang berpenduduk muslim lebih dari 2 juta orang.
Mengingat Ramadhan kali ini, Moskow diperkirakan musim semi. Dimana pohon-pohon yang ketika saya ke sana masih kering mulai berdaun dan kehijauan. Dimana bunga-bunga mulai berkuncup lalu mekar.

Kemarin ngobrol dengan sahabat disana Madina Kalimullina. Puasa dimulai sejak imsak pada pukul 2 pagi dan magrib baru tiba sekitar pukul 9 (kalau di Indonesia ini sudah malam, disana baru saja gelap), berarti sekitar 19 jam muslim di Moscow menahan lapar dan haus menjalankan ibadah puasa.


Masyaallah. Mungkin akan jadi perjuangan luar biasa untuk saya yang terbiasa dengan puasa hanya kurang dari 14 jam saja di Indonesia.

Muslim Moscow hanya ada waktu kurang lebih 5 jam waktu malam hari. Dimana dalam 5 jam juga harus melaksanakan sholat maghrib, isya, terawih, witir, tahajud dan tentu saja sahur, blm lg kl ada tadarussan, dll. Sementara mereka juga tetap harus tidur.

Bersyukur sekali tinggal di Indonesia dengan iklim tropis dimana perbandingan waktu siang dan malam hampir sama.
Tak ada menu istimewa saat iftar di sana. Tapi kurma selalu jadi pilihan paling tepat. Di Moscow terdiri dari banyak suku bangsa dan kebanyakan mereka masak masakan bangsanya masing-masing.

Ada yang populer saat Ramadhan di Moscow, yaitu tenda khusus yang diselenggarakan di udara terbuka dekat masjid atau tempat lain yang disebut dengan Shatyor Ramadana. Siapapun boleh datang dan berkunjung ke tenda mencoba berbagai masakan nasional dengan gratis. Tak peduli agama mereka apa yang penting datang dengan pakaian dan tingkah laku yang sopan semua akan diterima dan disambut baik.

Jangan harap ada obrog-obrog, takbir keliling, angpau lebaran, THR atau tradisi mudik saat menjelang Idul Fitri atau Lebaran atau kalau di sana disebut juga Uraza Bayram.

Tapi saat waktu sholat Ied tiba, karena jumlah masjid yang minim, semua orang berbondong-bondong menempuh perjalanan jauh agar bisa sholat di Masjid Agung Moscow. Masyaallah 😍

Ahh Indonesia udah paling nikmat kalau soal Ramadhan dan Lebaran. Segala terasa istimewa. Bahkan mudik dengan segala kemacetan dan keruwetannya juga seru dan dirindukan.

Defan, Anugerah Ramadhan

Menjelang akhir Ramadhan,lebih dari 4 tahun yang lalu. Disaat yang lain terlelap kelelahan setelah tadarusan, disaat yang lain khusuk itikaf di mesjid depan rumah.
Pukul 3 pagi menjelang sahur. Mules makin intens. Gelombang cinta makin terasa. Tapi bingung mau ngapain. Posisi lagi di rumah mamah di Majalengka. Nemenin mamah yang lagi sakit lumayan lemah.

Sudah lebih dari 2 minggu dari HPL. Akhirnya dengan tergopoh-gopoh bangunin suami yang tertidur di kursi depan.

"Yah.. yah.. bangun yah. Ayo kita ke klinik. Mama udah mules banget ini."

Suami menggeliat doang, melek bentar, "Kenapa ma?" Eh merem meneh.
Saya goyang-goyang lagi badannya. Colek-colek matanya, "Bangun, anter ke klinik. Ini udah makin mules!"

Dia melek lagi dikit, "Ohh.. nanti aja sih habis sahur," katanya sambil merem lagi. Balik badan.

"Aiisshh dikira apaan lahiran suruh nunggu? Ayo yaaahhh. Ini udah mau lahiirrr," tarik kakinya sambil mengerang kesakitan.
Suami langsung bangun, cuci muka ambil kunci mobil dan kita berangkat saat itu juga.

Majalengka-Cirebon butuh waktu sekitar 1 jam. Sepanjang jalan si ayah nyetir ngebut kayak kesetanan.😀 Jalan jelek mantul-mantul takut banget anaknya lahir di mobil.😀😀 Berkali-kali mengaduh sambil pegang perut.

Sampe di RS, langsung siap-siap, udah bukaan 3. Perawat menghubungi dokter. Kata bidan piket, "Bu jangan lahiran dulu ya, dokter lagi di jalan," disuruh nunggu. Wkwkkw. 😀😀

Tiba-tiba mengalir darah. Saya langsung masuk kamar bersalin. Ternyata udah bukaan 8. Nggak sampe 30 menit, saat kepala bayi udah nongol, udah lahir, dokternya datang dan bilang, "Ih dibilangin tunggu dulu bu, saya saur dulu. Ini saya cepet-cepet ke sini sampe nggak sempet sisiran". 😆😆

Alhamdulillah saat itu dipermudah melahirkan Defan. Nggak pake lama nggak pake drama. Pas liat bayinya, eeehh ayahnya banget. 😀 Nggak apa-apa. Tetep Alhamdulillah.😁 Cuma sedihnya. Setiap lahiran ada mama disisi kiri dan suami di sisi kanan. Tapi saat itu mama lagi sakit.

Jadi pas lebaran orang2 sholat Ied, mudik, salam-salaman, saya ngendon aja di kamar dengan BB yang masih 70an.
Eh sekarang juga nggak jauh dari segitu sih. Cuma bedanya nggak lagi hamil atau abis lahiran.😢

Nitizen Maha Benar

Teh...liat teteh semangat terus. Ceria terus.
Apa nggak pernah ada masalah? Apa nggak pernah sedih?

Oalah mak. Ini hidup. Mana ada orang yang nggak ada masalah. Mana ada orang yang nggak pernah sedih.

Saya juga sama. Masalah saya buanyaaakk. Bisa jd lebih banyak masalah saya daripada masalah mak emak. Sedih? Jangan ditanya. Kalau kudu ditampung, udah kayak air ujan buatan kali tuh nangis.

Kok kayak nggak pernah kelihatan?

Karena emak kenal saya di FB. Jarang ketemu atau mungkin nggak pernah ketemu di dunia nyata. Mak hanya liat status-status saya. Di FB sebisa mungkin saya tak mengumumkan masalah saya. Wong nggak diumumkan aja kadang orang bisa tau kok. Masa saya lg sedih kudu bawa spanduk eke lg sedih dan pengen dipeluk. Uhuk.

Seeeebisa mungkin, dunia nggak perlu tau kalau saya lagi nangis. Dunia nggak perlu ikut galau karena masalah saya. Teman-teman nggak perlu kebawa sedih karena membaca curhatan saya di FB. Yaa meski sekali-kali kadang kelepasan juga nulis di FB.

Yaaa ibarat kalimat..
"Aku ingin berlari dibawah deraian air hujan, agar tak seorangpun tau kalau aku sedang menangis."

Because ay em manusia mak. Hayalannya pengen berbagi semangat aja. Pengen berbagi kekuatan aja. Meskipun aslinya lagi rapuh. Meskipun aslinya lagi sedih. Apalagi lagi sedih dan nggak ada seorangpun yang mengerti dan menghibur. #lapairmata

Tapi inilah manusia mak. Inilah facebook. Inilah panggung. Dimana ketika kita nulis sedih yo dikomen jelek. Ketika nulis seneng juga bisa dikomen jelek. Wes pokoknya maha benar natizen dengan segala komentarnya.

Makanya saya punya sahabat. Jaraangg sy komen-komenan di FBnya. Bukan karena nggak sayang. Apalagi kalo dia lagi ada masalah. Mendingan samperin, peluk dan jadi pendengar yang baik. Dan sedekat apapun saya dengan temen di FB, pasti sy akan lebih peduli dengan sahabat saya yang real di dunia nyata.

Terima kasih sahabatku semua. Selalu hadir dan menguatkan dikala aku rapuh.
Seperti saat ini.
#eh

Mudik




Sesuatu yg kurindukan dikala hari raya tiba. Kumpul dengan saudara, adik, kakak, sepupu, ponakan-ponakan, dan seluruh keluarga senusantara.

Kini...mudik tak seperti dulu lagi, rumah ini tak semeriah lebaran dulu.
Sejak bapak nggak ada, seperti bingung tak punya tempat pulang. Tak tau harus mengunjungi siapa. Tak tau harus gembira ketemu siapa. Tak ada yg menunggu kedatangan, tak ada yang meyambut membukakan pintu.

Dulu...semua kompak datang di hari yang telah ditentukan. Sampai halaman tak muat lagi untuk mobil yang datang paling belakangan. Ramai-ramai membereskan tempat, menyiapkan barisan kasur tempat tidur, seru berbagi oleh-oleh, heboh anak-anak berlarian, ribut berebut makanan dan antri menerima angpau. Lalu tidur larut karena asik bercerita.

Pagi-pagi, belum mandi, kita sudah berburu sarapan khas Ambarawa, yang dicari selalu makanan dan jajanan khas sini. Lalu berkunjung ke saudara-saudara lain yg msh berdekatan.

Besoknya, kita menghabiskan waktu seharian untuk sekedar makan-makan atau berkunjung ke tempat wisata. Rame-rame. 
Semua gembira meski tidur di tempat sederhana, mandi antri karena kamar mandi hanya ada 2 digunakan lebih dari 50 orang. Anak-anak kumpul dengan seusianya. Dengan mainan dan ceritanya masing-masing. Perlengkapan tidur ada yang bawa kasur angin, kasur lipat, kasur Palembang, bed cover, dll. Ada yang bawa obat nyamuk semprot, oles, elektrik, dll.

Saat magrib tiba semua udah milih kapling masing-masing. Kemana-mana bawa bantal karena takut ilang dipake yg lain 😀. Tidur baris dari ujung ke ujung mirip barisan pindang lagi dijemur. Bahkan suami seringkali tidur di mobil krn nggak kebagian tempat. Tapi semua gembira. Semua bahagia. Tak ada jarak status, jabatan, kasta, agama, dll. Semua baur menjadi satu.

Terakhir menjelang berpisah, selalu di akhiri foto depan rumah dan berdesak-desakan cari posisi agar terfoto semua saking banyaknya. 

Tapi itu dulu...
Sekarang, bapak udah nggak ada. Ibu nggak ada. Bulik paklik beberapa sudah nggak ada juga. Anak-anak sudah pada besar, tak lagi lucu. Tak lagi lari-lari. Asik dengan HP masing-masing. Sepupu, ponakan, juga beberapa sudah menikah. Sudah punya kehidupan sendiri. Mudik ke rumah orang tua dan mertua masing-masing.

Rumah ini seringkali sepi saat lebaran. Beberapa masih datang tapi tak lagi diwaktu bersamaan. Beberapa tak menginap. 
Lebaran..kadang-kadang bingung, pengen mudik tapi kemana. Hari H sampai +2 ke rumah mamah. Setelah itu pengennya mudik ke rumah suami, ziarah ke makam bapak dan ibu. Tapi mendapati rumah kosong di suasana lebaran, rasanya asing. Kakak-kakak ke rumah mertuanya masing-masing dan baru kembali di hari entah ke berapa. Ada juga yang jauh, terkadang pulang 2 tahun sekali.

Mau 14 tahun jd anggota keluarga ini, rumah ini tidak berubah meskipun penghuninya sudah banyak yang berubah. Dua pohon palem itu masih disitu. Juga masih setinggi itu. Dinding kayu, ranjang-ranjang besi zaman dulu, toples-toples dan perabot jaman dulu. Tak banyak yg berubah.

Hari ini, hanya ada 2 mobil yang datang dan menginap. Sepi.
Suatu hari, mungkin akan tiba saatnya saya tak bisa lagi datang ke sini, tak bisa lagi tidur di rumah ini. Tak bisa lagi kumpul dan bertemu keluarga. Tapi, suatu hari rumah ini akan menjadi cerita yang akan dikenang sepanjang masa.

Ambarawa, 17 Juni 2018

Sabtu, 09 Juni 2018

Pastikan Rezekimu Halal

Kemarin, saya beli 2 double foam seharga @13 ribu dan 1 pak batre alkaline di salah satu toko ATK kecil sambil lewat sepulang dari kota. Setelah selesai transaksi dan menerima kembalian, tanpa cek lg belanjaan, saya langsung buru-buru masuk dan starter mobil.

Sesampainya di kantor. Ketika saya mau pake double foamnya untuk menempelkan sesuatu, maklumlah karena saya berasal dr golongan emak seterong yg suka manjat-manjat ngerjain sesuatu berteman paku dan palu, ternyata double foamnya ada 2 ukuran. Disitu ada label harganya. Satu seharga 13 ribu dan satunya lagi harga 15 ribu. Lalu saya cek nota. Tertulis 2 x 13 ribu.

Berarti barang yang saya bawa satunya salah. Yang terlintas di pikiran saya saat itu...

"Ah cuma 2 ribu ini, nggak apa-apa kali."

"Ah salah sendiri kenapa salah kasih barang,"

"Biarinlah, cuma 2 ribu, tokonya nggak akan ngeh,"

"Nggak apa-apalah, ngabisin waktu banget kudu balik lagi cm demi 2 ribu,"

"Bukan salah saya, resiko tokonya kenapa salah kasih barang,"

"Pake aja dulu. bayar kapan-kapan kalau pas lewat lagi,"

Dan godaan-godaan lainnya. Kayaknya saat itu ada setan yang terlepas dari ikatannya.

Lalu saya turun dari kursi, terduduk. Saya terdiam.  Berpikir lagi...

"Memang cuma 2 ribu. Tapi tetap bukan hak saya"

"2 ribu. Mungkin tidak akan membuat penjualnya miskin. Tapi juga nggak akan membuat saya kaya, saya hanya akan mendapat dosa,"

"Kalau pake dulu bayar nanti kl kapan-kapan lewat, gimana kalo umur saya cuma sampe hari ini?"

"Gimana kalo tokonya ternyata kehilangan?"

"Lalu ngapain selama ini jungkir balik membangun Mouza demi harta halal lalu rusak hanya karena nilai 2 ribu?"

"Apa arti selama ini hijrah mati-matian meninggalkan harta riba, penuh peluh dan air mata demi mengejar yang halal lalu skrg harus hancur tiba-tiba?"

Hiiiyyu, Saya bergidik membayangkannya. Astaghfirullah.

TIDAK!!
Saya tidak akan merusak apa yang sudah saya bangun selama ini. Saya tidak akan membiarkan harta saya ternoda sedikitpun dengan yang haram. Saya tidak akan membiarkan ikhtiar yang saya lakukan dengan susah payah dan perih menghabiskan energi waktu dan air mata demi yang halal lalu rusak seluruhnya hanya karena senilai 2 ribu.

Saya tidak akan membiarkan pengorbanan saya jualan Mouza dimaki-maki customer, dikomplain agen habis-habisan siang dan malam demi uang halal lalu jadi haram seketika. Oh No No!

Akhirnya saya urung nempelin sesuatu di dinding. Sepertinya sepele. Tapi ini penting!

Lalu saya minta antar suami ke toko ATK tadi. Butuh waktu 1 jam untuk tiba di sana di tengah kemacetan Bandung menjelang sore.

Sesampainya di toko, saya jelaskan ke pelayannya. Dan dia berkata, "Duh ya ampun.. kl ketauan, bisa dipecat saya bu," Nah kan, sy bahkan tadi ga berpikir sampai situ. Nggak kebayang kl saya nggak balikin.

Sambil mikir, tadi pas beli dia manggil teh, kenapa skrg jadi ibu? 😭

Setelah selesai menukar barang. Sayapun pamit. Nggak pake cipika cipiki dan nggak pake salaman juga karena belum lebaran. Apalagi dikasih bingkisan lebaran. 😀

Sambil liat tukang beca yg lg ngunyah, sy masuk mobil. Bayar parkir 3rb dan pulang sambil nyanyi sholawat ala shabyan yang membuat suami meringis dengernya. Mual kayaknya.

Perasaan yang ada saat itu, tenaaangg.
Saya jadi inget ada teman beli pulsa. Salah nulis nomor, masuk ke nomor orang lain. Ketika di telepon, orang yang nerima pulsa salah masuk tadi nggak mau ngembaliin dan menganggap itu bukan salahnya. Bagaimana bisa ia tenang pake pulsanya?

Saya heran juga kalau ada olshop melebihkan ongkir atau menganggap sepele kelebihan ongkir yang dibayar tanpa akad lagi ke customernya. Itu bukan hak kita teh, eh.. bu. Tetap harus bilang tuh, teh, bu ongkirnya lebih serebu. Mau digimanain? Mau deposit, disumbangin atau buat teh Dinii aja tambahan beli takjil? Kudu ada akad yes.

Ini bukan salah siapa. Tapi kita harus tau, mana yg sebenarnya hak kita dan mana yg bukan. Jangan sampe karena nilai tak seberapa lalu merusak semua yang ada yang sudah kita bangun susah payah.

Jangan sampai karena nila setitik, rusak es kelapa sebaskom. 😘

Selamat berjuang menjelang tutup orderan
Selamat semangat menghabiskan waktu bermanja-manja denganNya di penghabisan ramadhan.

Salam sayang
Dinii Fitriyah
Karyawan teladan Mouza Indonesia
😘😘😘

Rezeki Kurma Busuk

Kalau rezeki itu diukur dari kerja keras, maka kuli bangunanlah yg akan cepat kaya.

Jika rezeki itu ditentukan dari waktu kerja maka warung kopi 24 jam lah yang akan mendapatkan lebih. Bahkan mungkin mampu mengalahkah KFC dan Mc. DONALD.

Jika rezeki itu  milik orang pintar, maka dosen yang bergelar panjang yang akan lebih kaya.

Jika rezeki itu karena jabatan maka presiden dan rajalah orang yang akan menduduki  100 orang terkaya di dunia.

Rezeki itu karena kasih sayang Allah.

"Mengejar rezeki, jangan mengejar jumlahnya..tetapi berkahnya."
( Ali bin Abi Thalib )

MESKIPUN LARI, REZEKIMU AKAN TETAP MENGEJARMU

“Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (HR Ibnu Hibban No. 1084)

Miskin kaya sudah ada yang mengaturnya.

ABDURRAHMAN BIN AUF SELALU GAGAL JADI ORANG MISKIN

Jika tiba-tiba kondisi ekonomi "down", saya selalu terhibur mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, Abdurrahman bin Auf r.a akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf r.a pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. 

Abdurrahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi  dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur, Alhamdulillah...kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf. Sahabat gembira. 
Abdurrahman bin Auf r.a pun juga gembira.

Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku.
Abdurrahman bin Auf r.a gembira juga sebab berharap jatuh miskin!

Masya Allah, hebat!

 Coba kalau kita? Usaha diuji dikit, udah teriak tak tentu arah.

Abdurrahman bin Auf r.a merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, sebab sudah miskin. 

Namun, Masya Allah
Rencana Allah Subhanahu wa ta'ala itu memang terbaik.

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.

Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok adalah KURMA BUSUK!

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahu Akbar...
Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah:

"Wahai manusia, di langit ada rezeki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian " (Qs. Adz Dzariat, 22 )

Jadi rezeki yang banyak itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?

Allah Subhanahu wa ta'ala lah yang memberi rezeki.

Semoga kisah ini dapat menyuntik kembali semangat dalam diri kita semua,  yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha, UNTUK LEBIH MENGUTAMAKAN URUSAN kepada Allah dibanding urusan dunia yang sementara ini, Aamiin.