Kamis, 28 Juni 2018

Mudik




Sesuatu yg kurindukan dikala hari raya tiba. Kumpul dengan saudara, adik, kakak, sepupu, ponakan-ponakan, dan seluruh keluarga senusantara.

Kini...mudik tak seperti dulu lagi, rumah ini tak semeriah lebaran dulu.
Sejak bapak nggak ada, seperti bingung tak punya tempat pulang. Tak tau harus mengunjungi siapa. Tak tau harus gembira ketemu siapa. Tak ada yg menunggu kedatangan, tak ada yang meyambut membukakan pintu.

Dulu...semua kompak datang di hari yang telah ditentukan. Sampai halaman tak muat lagi untuk mobil yang datang paling belakangan. Ramai-ramai membereskan tempat, menyiapkan barisan kasur tempat tidur, seru berbagi oleh-oleh, heboh anak-anak berlarian, ribut berebut makanan dan antri menerima angpau. Lalu tidur larut karena asik bercerita.

Pagi-pagi, belum mandi, kita sudah berburu sarapan khas Ambarawa, yang dicari selalu makanan dan jajanan khas sini. Lalu berkunjung ke saudara-saudara lain yg msh berdekatan.

Besoknya, kita menghabiskan waktu seharian untuk sekedar makan-makan atau berkunjung ke tempat wisata. Rame-rame. 
Semua gembira meski tidur di tempat sederhana, mandi antri karena kamar mandi hanya ada 2 digunakan lebih dari 50 orang. Anak-anak kumpul dengan seusianya. Dengan mainan dan ceritanya masing-masing. Perlengkapan tidur ada yang bawa kasur angin, kasur lipat, kasur Palembang, bed cover, dll. Ada yang bawa obat nyamuk semprot, oles, elektrik, dll.

Saat magrib tiba semua udah milih kapling masing-masing. Kemana-mana bawa bantal karena takut ilang dipake yg lain 😀. Tidur baris dari ujung ke ujung mirip barisan pindang lagi dijemur. Bahkan suami seringkali tidur di mobil krn nggak kebagian tempat. Tapi semua gembira. Semua bahagia. Tak ada jarak status, jabatan, kasta, agama, dll. Semua baur menjadi satu.

Terakhir menjelang berpisah, selalu di akhiri foto depan rumah dan berdesak-desakan cari posisi agar terfoto semua saking banyaknya. 

Tapi itu dulu...
Sekarang, bapak udah nggak ada. Ibu nggak ada. Bulik paklik beberapa sudah nggak ada juga. Anak-anak sudah pada besar, tak lagi lucu. Tak lagi lari-lari. Asik dengan HP masing-masing. Sepupu, ponakan, juga beberapa sudah menikah. Sudah punya kehidupan sendiri. Mudik ke rumah orang tua dan mertua masing-masing.

Rumah ini seringkali sepi saat lebaran. Beberapa masih datang tapi tak lagi diwaktu bersamaan. Beberapa tak menginap. 
Lebaran..kadang-kadang bingung, pengen mudik tapi kemana. Hari H sampai +2 ke rumah mamah. Setelah itu pengennya mudik ke rumah suami, ziarah ke makam bapak dan ibu. Tapi mendapati rumah kosong di suasana lebaran, rasanya asing. Kakak-kakak ke rumah mertuanya masing-masing dan baru kembali di hari entah ke berapa. Ada juga yang jauh, terkadang pulang 2 tahun sekali.

Mau 14 tahun jd anggota keluarga ini, rumah ini tidak berubah meskipun penghuninya sudah banyak yang berubah. Dua pohon palem itu masih disitu. Juga masih setinggi itu. Dinding kayu, ranjang-ranjang besi zaman dulu, toples-toples dan perabot jaman dulu. Tak banyak yg berubah.

Hari ini, hanya ada 2 mobil yang datang dan menginap. Sepi.
Suatu hari, mungkin akan tiba saatnya saya tak bisa lagi datang ke sini, tak bisa lagi tidur di rumah ini. Tak bisa lagi kumpul dan bertemu keluarga. Tapi, suatu hari rumah ini akan menjadi cerita yang akan dikenang sepanjang masa.

Ambarawa, 17 Juni 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar