Rabu, 26 September 2018

Beli Rumah Tanpa Riba, Bukan Dongeng!





Nulis ini masih percaya nggak percaya...
Kaget, terharu, amazing, campur jadi satu. Masyaallah...

Setelah dulu hidup pernah habis hancur lebur nyungseb gara-gara riba, kehilangan banyak hal, rumah, mobil, motor, semua disita, diteror debt collector, dll. Saya berjanji untuk tidak lagi berurusan dengan riba. Saya menjauh seeeejauh-jauhnya dengan yang namanya riba. 

Merelakan semua yang hilang karena riba, menutup semua asuransi dan apapun tanpa ada konpensasi apa-apa. Menutup semua kartu kredit yg berlimit fantastis. 

Tak akan pernah mendekat lagi meskipun tawaran menggiurkan datang setiap hari. Kapookkk sekapok-kapoknya!!

2016 kami memulai hidup dari minus (bukan 0 lagi). Selesai sudah hidup di rumah besar yang telah diserahkan lagi ke bank, lalu pindah ke kamar kos berukuran 3x3m. Tidur sekamar berlima desek-desekan, dengan anak-anak yang masih kecil, makan seadanya kadang cuma sekali sehari. Berbagai ujian hidup datang silih berganti. Tak terhitung perih dan air mata kami jalani penuh syukur.

Tak apa-apa. Belajar mengikhlaskan semuanya lebih baik dari pada menantang Allah perang. 
Menahan diri untuk semua tawaran menggiurkan. Mengendalikan emosi untuk semua hinaan. Nggak apa-apa terhina di dunia asal jangan terhina di akhirat.

Teman menjauh, yang ngaku sahabat menghilang. Banyak orang yang mencibir. Banyak orang yang nyinyir.

"Kalo bukan bank, mana ada yg mau minjemin duit milyaran buat beli rumah."

"Mau kontrak sampe kapan? Mendingan uang kontraknya pake nyicil."

Saya tak peduli ketika orang tak percaya. Saya meyakini Allah Maha Kaya. Saya hanya fokus memantaskan diri. Itu saja.

Saya memimpikan beli rumah milyaran tanpa riba. Tanpa KPR ke bank. Menghayal katanya mak. 

Siapalah saya. Bisnis Mouza Indonesia yg saya bangun cuma bermodal 3jt baru berjalan 2 tahun. Saya tau diri untuk tidak berharap banyak. Jangankan untuk beli rumah, untuk modalpun masih ngos-ngosan. Banyak yg menawarkan investasi, tapi saya menolak. Saya memilih hidup apa adanya. Biarlah Mouza berjalan dan besar dengan sendirinya.

"Kalo gitu, mau kapan kebeli rumahnya? Keburu mati nungguin duit kekumpul,"

Nggak apa-apa kalo nggak segera terkumpul. Nggak apa-apa kalo harus ngontrak. Nggak masalah saya harus bersabar lagi. Ngontrak lagi. Ngontrak terus. Tak mengapa.

Jangan ditanya, bagaimana lelah menghadapi yg punya kontrakan karena naik terus tiap tahun? Lelah cari-cari kontrakan baru. Lelah angkut-angkut tiap pindahan. Angkut-angkutnya sehari, encoknya sebulan.

Nggak...nggak kalo saya harus mati dengan status nggak punya rumah. Insyaallah menjadi Lillah. Mendingan saya kelelahan ngurusin kontrakan daripada saya harus melawan Allah.

Dan kemarin, ketika saya sedang cari kontrakan untuk gudang Mouza, disana ditulis Dikontrakan/ dijual. Rumahnya di kota. Dari depan biasa aja. Tp dalamnya bisa untuk main bola anak-anak. Cukup menampung 2 meja cutting sepanjang @7.5m. Cukup untuk menampung puluhan penjahit. Sangat Luas.

Bertemu dengan yang punya rumah. Awalnya saya cuma becanda pas tanya-tanya kontrak,
"Sekalian dibeli juga boleh bu kl bisa nyicil, hehehe."

"Alhamdulillah, kalo neng Dinii suka dan mau beli, mau dicicil juga boleh," jawab si ibu punya kontrakan jg sambil tertawa. Dan disambut anggukan si bapaknya.

Woww! Saya becanda mak! Saya tau diri. Jadi benar-benar cuma becanda! Jadi saat itu saya tak berharap apapun. Menganggap si ibu bapak ini juga cuma becanda. Besoknya, saya lupakan kejadian itu. 

Seminggu kemudian, si ibu bapak yg punya kontrakan datang ke kantor. Ngobrol ngaler ngidul. Dan...

Ternyata beliau serius mak.😢😢 Beliau punya banyak rumah. Ini hanya salah satu saja. Beliau sudah pensiun. Ternyata beneran boleh rumahnya saya cicil. Terserah saya sanggupnya berapa katanya. Masyaallah! 😭

Dulu, saya hancur kehilangan rumah dan meninggalkan utang senilai 1.5M gara-gara riba, kini Allah menggantinya berkali-kali lipat. Masyaallah. Saya cuma bisa sujud syukur antara percaya nggak percaya.

Sampai tadi malam, saya masih tergugu takjub. Harga rumah itu milyaran mak. Saya punya mimpi ingin beli rumah milyaran tanpa utang ke bank.

Saya pikir mimpi saya kejauhan. Saya pikir mimpi saya kelewatan.  Mana bisa. Mana ada. Tapi saya sangat meyakini janjiMu ya Allah. Yakin seyakin-yakinnya.

"Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yg lebih baik," (HR. Ahmad)

Janji Allah NYATA!
Mana ada orang yg ujug2 ngejual rumahnya dan mau dicicil semampunya.
Ternyata ada. Masyaallah 😭😭

Tapi kan jarang orang yang kayak gitu. 
Betul, saya setuju. Tapi inilah skenario Allah. Semua pasti bukan kebetulan. Tidak tiba-tiba Allah mempertemukan saya dengan mereka kalau bukan karena sudah Allah atur.

Tetaplah semangat teman-temanku pejuang riba. Tetaplah bermimpi tinggi. Kita nggak perlu mikirin caranya. Tugas kita hanya satu. Taat. Sisanya biar Allah yang menentukan. Berdoa terus...

Semoga kita adalah orang yang pantas untuk menerima keistimewaan itu. Jangan menghitung rezeki dengan caramu sendiri. Karena rezeki Allah bisa datang dengan cara yang tak pernah kita ketahui dan dari arah yang tak diduga2...

Semangat berjuang sahabatku. Semoga tulisan ini bisa memotivasi. Ini nyata. Bukan dongeng.

Doa dan support dr saya
Dinii Fitriyah
Mantan pejuang riba yang terlambat tobat. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Cerita tentang riba saya sebelumnya bisa dibaca di 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10206579253496863&id=1137356077

Tidak ada komentar:

Posting Komentar