Rabu, 26 September 2018

Jangan Kerdilkan Rezekimu





Dulu, waktu masih tinggal di Indramayu, waktu kakak Andien masih kelas 2 SD, saya sudah mendengar nama Pondok Asyifa Subang ini. Waktu itu, teman sesama pebisnis komputer cerita ia akan memasukkan anaknya ke pondok Asyifa. Dan ia bilang biayanya cukup mahal. Ia cerita tentang bagaimana pentingnya pendidikan akhlak dan karakter anak. Dalam hati saya berbisik sendiri, kelak, anak saya juga akan saya masukkan ke pondok itu.

Saat Andien kelas 5 dan harus pindah ke SD negeri di Bandung, di tahun 2016, saya mulai melupakan impian itu. Jangankan untuk masuk sekolah mahal, melanjutkan di SD negeri aja rasanya terseok-seok.

Naik kelas 6, saya semakin tak percaya diri untuk memasukkan Andien ke sana. Bukan cuma karena merasa "nggak mampu bayar", tapi juga Kakak Andien bukanlah anak yg pintar akademisnya. Nilai-nilainya biasa saja. Belum lagi standar sekolahnya di negeri dekat rumah yg juga tidak terlalu tinggi. 

Tapi saya berdoa tiada henti meminta padaNya, "Ya Allah, hamba ingin sekali kakak Andien masuk Asyifa. Hamba mohon mudahkan ikhtiar hamba untuk mendidiknya menjadi anak yang sholeha. Hamba ingin anak hamba jadi perempuan yang mandiri dan berahlak baik."

Tahun 2016, sedikitpun nggak kebayang mau punya uang dari mana. Sampai 2017 akhir, itu msh belum bisa nabung sama sekali.

Tapi satu yang saya yakini. Allah Maha Mendengar. Allah maha kaya. Doa itu tak pernah berhenti saya panjatkan. 
Sampai akhirnya tiba pendaftaran. Pondok ini pendaftarannya beda dengan sekolah-sekolah umum. Bulan Oktober November itu udah mulai pendaftaran anak didik.

Awalnya, kakak keukeuh nggak mau mondok. Lalu suatu hari saat liburan, saya mengajaknya keliling pondok yang saya jadikan tujuan pendaftaran kelak. Ngobrol dengan santri-santrinya, ngobrol dengan ustadz-ustadznya. Lihat kamar-kamarnya dan lihat kegiatan-kegiatannya.

Alhamdulillah kakak luluh dan memilih sendiri Asyifa dan 2 pondok lain untuk cadangan sebagai pilihannya.
Dan ketika test, kembali saya ciut. Pendaftarnya banyak lebih dr 3000an. Sedangkan yg diterima  sekitar 500an. Tanya2 ke anak yg daftar, rata-rata lulusan sekolah IT atau SD boarding juga.

Rata-rata rangkingnya bagus. Lalu saya tatap Andien yang lagi tes di dalam ruangan. Andien yang nggak pernah rangking 3 besar, bukan dari sekolah IT bahkan dari sekolah negeri biasa aja. Ahh...

Tapi do'a saya begitu kuat. Harapan saya pada pertolongan Allah begitu yakin.
Sampai akhirnya lihat pengumuman di web bahwa andien lulus. Alhamdulillah. Masyaallah. Saya sujud syukur.
Dan ketika nganter ke pondok, saya dan Andien ketawa sendiri lihat daftar teman sekamarnya. Semua dari sekolah-sekolah bagus. Semua dari sekolah-sekolah IT, dan sekolah Islami lainnya, cuma Andien yg nyempil dari SD Negeri. 😁

Untuk mak emak yang punya harapan sama. Buat emak yang kemarin bilang nggak mungkin karena biayanya mahal. Buat emak yang bilang sekarang belum punya tabungan, teruslah berdo'a. Teruslah meminta yg terbaik untuk anak-anak kita.

Tak ada yg tak mungkin baginya. 
2th yang lalu saya juga sama. Nggak punya tabungan. Nggak pernah tahu mau dari mana bayar biayanya yang untuk masuk saja hampir 23jt. Belum biaya perlengkapan dan lain yang juga jutaan. Belum lagi Danish masuk SD 10jt dan Defan masuk TK 7jt. Smua barengan Alhamdulillah 😄

Yakinlah bahwa do'a ibu bisa menjadi kekuatan maha dahsyat untuk anak-anak kita. Jangan pernah menyerah dan hilang harapan. Jangan kerdilkan rezekimu oleh prasangka-prasangka kita sendiri. Insyaalah Allah mudahkan ikhtiar kita demi anak-anak yg sholih dah sholihah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar