Rabu, 26 September 2018

Jangan Merasa Diri Paling Baik






Kalo ngomongin soal Hijrah. Saya suka sedih. Mata mendadak panas menahan beratnya bulir bening di sudut kelopak. Menyesal.

Hijrah saya tidaklah mudah. Sampai saat ini saya masih berjuang keras. Bukan hanya penampilan, dari yang dulu bercelana jeans ketat robek-robek, pake gelang kaki, bahkan cincin di jari kaki, kerudung dililit-lilit dileher. Kemeja dilinting sesiku. Saat teman-teman baru belajar motor bebek, saya udah bisa bawa Tiger yg ngetrend pada zamannya. Disaat yg lain baru belajar nyetir sedan, sy udah bs bawa truck. Hiks. Tomboy Masyaallah. 

Naik turun gunung, ikut berbagai perguruan silat, dll. Disaat perempuan lain di rumah luluran merawat badan, saya malah terjebak di goa bersama grup Pecinta Alam. Teman-teman saya lebih banyak laki-laki ketimbang perempuan.

Tiba-tiba saya harus belajar menjadi perempuan lembut. Merubah 360 derajat hidup saya dari berbagai hal yg sampai saat ini ternyata nggak lembut-lembut. Uhuk. 
Itu hanya sekelumit kisah hijrah yg tak ada apa-apanya. 

Satu hal yang tak pernah saya tinggalkan. Saya tak menjauh dari sahabat-sahabat perempuan. Meskipun mereka belum hijrah. Saya masih mau temenan sama mereka yg pake rok pendek. Saya masih mau ketemu sama yg pake jeans robek, saya masih menghargai teman saya yang masih pake kerudung dililit di leher. Bahkan dari kuliah hingga saat ini saya punya sahabat dekat beda agama. 

Saya memilih tidak menjauh dari mereka. Kenapa?

Karena saya pernah di posisi itu. Saya pernah begitu. Saya tau bagaimana rasanya. Dan saya juga tahu bagaimana rasanya ditinggalkan sahabat ketika saya mau belajar hijrah.

Siapa tau, berteman dengan saya skrg menjadi wasilah mereka ikut hijrah. Saya tak pernah merendahkan mereka, tak punya hak menilai mereka, tak pernah nyinyirin mereka, tak pernah merasa hijrah saya lebih baik. Tak pernah merasa diri lebih taat. Tak pernah berkomentar kok kamu begini, kok kamu begitu?

Siapa yang akan tahu?
Kelak, bisa jadi mereka lebih taat dari saya. Kelak, bisa jadi mereka hijrah lebih keras dari saya. 
Kelak, bisa jadi merekalah yg lebih mulia di mata Allah di banding saya. 
Saya tak punya hak menilai amalan mereka. Siapalah saya?

Apalagi ketika saya mengalami sendiri bagaimana kerasnya perjuangan untuk hijrah itu tak mudah.  Bagaimana panjangnya proses yang harus dijalani menuju istiqomah?

Maka pilihan saya adalah mendoakannya. Karena seburuk apapun masalalu seseorang, ia selalu punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Kita saling doakan ya teman-teman...

Peluk dari saya, perempuan lemah yang telat hijrah.
Dinii Fitriyah




Tidak ada komentar:

Posting Komentar